TERAS7.COM – Sebanyak 365 siswa kelas XII SMA Negeri 2 Banjarbaru mengikuti pembekalan dan motivasi untuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Assesmen Nasional (AN) Tahun Ajaran 2026/2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026.
Kegiatan Pembekalan dan Motivasi TKA serta Asesmen Nasional (AN) Tahun Ajaran 2026/2027 tersebut digelar di Gedung Bina Satria, Kota Banjarbaru, Kamis (22/10/2026).
Dari total 365 siswa yang menjadi peserta, sekitar 350 siswa hadir dalam kegiatan yang menghadirkan dua materi, yakni motivasi oleh Eva Noorlatifah dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) oleh Rio Dwi Saputra.
Ketua TKA dan Asesmen Nasional 2026 SMA Negeri 2 Banjarbaru, Lenny Agustina, mengatakan pembekalan tersebut bertujuan mempersiapkan siswa agar lebih siap secara mental dan percaya diri saat menghadapi TKA.
“Pembekalan TKA hari ini berupa pemberian motivasi dan hipnoterapi supaya anak-anak siap menghadapi TKA minggu depan, mulai tanggal 26 Oktober sampai 8 November, yang dilaksanakan secara bertahap dalam dua gelombang,” ujarnya.

Menurut Lenny, materi motivasi juga mengajak siswa merefleksikan perjalanan belajar selama tiga tahun di sekolah, mengingat mereka akan segera menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan mampu membangun kepercayaan diri dan mengendalikan kecemasan sebelum menghadapi ujian.
“Tadi juga ada hipnoterapi supaya mereka lebih bersemangat dari dalam dirinya sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, persiapan menghadapi TKA telah dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari gladi, simulasi, hingga pembekalan motivasi. Upaya tersebut dilakukan agar siswa dapat mengerjakan soal sesuai dengan materi yang telah dipelajari selama tiga tahun.
Lenny menjelaskan, TKA memiliki fungsi berbeda dengan Ujian Nasional (UN) yang pernah diterapkan sebelumnya. TKA tidak menentukan kelulusan siswa, tetapi memberikan gambaran mengenai kemampuan akademik yang dapat berkaitan dengan pilihan jurusan dan jenjang pendidikan selanjutnya, termasuk perguruan tinggi negeri.
Karena itu, ia berharap pembekalan tersebut tidak hanya bermanfaat untuk menghadapi TKA, tetapi juga menjadi bekal bagi siswa ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menjalani kehidupan mendatang.
“Harapannya, apa yang didapatkan di sini bukan hanya bermanfaat untuk menghadapi TKA, tetapi juga untuk kehidupan mereka mendatang, termasuk ketika kuliah,” harapnya.

Sementara itu, pemateri ESQ sekaligus Psikolog, Rio Dwi Saputra menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk ujian akademik.
Menurutnya, siswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual, tetapi juga perlu memiliki kemampuan mengelola emosi dan memaknai proses yang sedang dijalani.
“Tujuan khusus materi ini adalah supaya anak-anak SMA menghadapi TKA tidak sekadar gugup, cemas, atau tidak tahu harus melakukan apa,” jelasnya.
Rio mengatakan, kemampuan mengendalikan emosi dapat membantu siswa menghadapi ujian dengan lebih tenang. Mereka juga perlu memahami bahwa ujian merupakan bagian dari tantangan hidup yang dapat mendorong peningkatan kemampuan diri.
Dalam menyampaikan materi kepada siswa yang tergolong Gen Z, Rio mengaku perlu menggunakan pendekatan interaktif.
Menurutnya, kebiasaan menerima informasi melalui video singkat dan perpindahan topik yang cepat menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga perhatian peserta.
Karena itu, ia berupaya melibatkan siswa secara langsung melalui pertanyaan dan interaksi agar materi yang disampaikan lebih mudah diterima.
“Karena itu, tantangannya adalah bagaimana kita bisa berinteraksi dengan mereka,” ucapnya.
Selain pembekalan di sekolah, Rio juga menyoroti pentingnya dukungan guru dan orang tua dalam membantu siswa menghadapi TKA.
Ia menilai, motivasi yang diberikan pemateri dalam kegiatan singkat perlu dilanjutkan melalui pendampingan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga.
“Pendidikan terbaik juga ada di rumah. Guru memang memberikan dukungan dan sebagainya, tetapi pendidikan yang paling bagus dan bermakna dalam kehidupan anak justru berasal dari rumah,” ujarnya.
Rio menambahkan, orang tua perlu membantu anak menghadapi kecemasan dengan memberikan arahan, nasihat, dan keyakinan bahwa mereka mampu melewati tantangan berdasarkan proses belajar yang telah dijalani.
Menurutnya, edukasi yang diberikan melalui kegiatan pembekalan merupakan proses untuk menambah pemahaman siswa. Sementara itu, keberlanjutan dukungan emosional tetap membutuhkan peran guru dan orang tua agar siswa dapat menghadapi ujian dengan lebih siap.
“Karena, edukasi itu bukan terapi. Edukasi merupakan proses dari tidak tahu menjadi tahu,” tukasnya.