TERAS7.COM – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memperkuat upaya hilirisasi komoditas kopi Kalimantan melalui peluncuran Lambung Mangkurat Teaching Factory Coffee & Roastery dan Grandis Café & Bakery di Kampus ULM Banjarbaru, Sabtu (13/9/2026).
Peresmian dilakukan Rektor ULM Prof. Dr. Ahmad, S.E., M.Si., dan dihadiri jajaran pejabat universitas, perwakilan Dinas Perkebunan, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), komunitas petani kopi, serta sejumlah mitra kerja sama ULM.
Kehadiran dua unit tersebut tidak hanya menambah fasilitas usaha di lingkungan kampus. ULM mengarahkan Teaching Factory Coffee & Roastery sebagai sarana pembelajaran sekaligus ruang pengembangan inovasi dan hilirisasi komoditas kopi, khususnya kopi yang berasal dari Kalimantan.
Rektor ULM Prof. Ahmad mengatakan, pengembangan dua unit tersebut merupakan bagian dari dukungan Badan Pengelola Usaha Universitas Lambung Mangkurat (BPU ULM) dalam mengoptimalkan pemanfaatan aset sekaligus mengembangkan unit usaha komersial universitas.
Menurutnya, kondisi agroekologi Kalimantan yang beragam memberikan peluang pengembangan sejumlah varietas kopi, antara lain Robusta, Liberika, Excelsa, dan Arabika.
Namun, pengembangan komoditas kopi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Menurut Ahmad, peningkatan nilai tambah juga perlu dilakukan melalui pengolahan dari sektor hulu hingga hilir.
“Jadi kopi tidak berhenti sebagai green bean, tetapi bisa dikembangkan menjadi roasted bean, kopi bubuk, hingga berbagai produk minuman seperti yang disajikan di Grandis Café,” ujar Ahmad.
Ia mencontohkan kopi Robusta yang melalui penanganan dan pengolahan secara tepat dapat memiliki nilai komersial lebih tinggi dibandingkan ketika hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
Karena itu, diperlukan ekosistem yang dapat menghubungkan petani dengan teknologi, perguruan tinggi, industri, pasar, hingga konsumen.
“Sebagai contoh adalah kopi Robusta yang saat ini bisa kita saksikan bersama, bahwa jika dilakukan dengan pengolahan yang baik, maka akan memperoleh nilai komersial yang jauh lebih besar. Karena itu, diperlukan ekosistem yang menghubungkan petani, teknologi, perguruan tinggi, industri, pasar, dan konsumen,” katanya.
Ahmad menegaskan, perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan pengetahuan dan penelitian. Hasil inovasi juga perlu diterapkan dan dikembangkan agar memberikan manfaat serta nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Teaching Factory menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan proses pendidikan dengan praktik industri. Melalui Teaching Factory Coffee & Roastery, mahasiswa ULM nantinya dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai proses industri kopi, mulai dari pascapanen, pengolahan, roasting, hingga pemasaran.
Fasilitas tersebut juga diarahkan menjadi ruang kolaborasi antara ULM, pemerintah, petani kopi, pelaku UMKM, dunia usaha, dan masyarakat.
“Saya berharap Lambung Mangkurat Teaching Factory Coffee & Roastery tidak berhenti sebagai sebuah unit usaha, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran, riset, inovasi, dan hilirisasi kopi Kalimantan,” kata Ahmad.
Sementara itu, Grandis Café & Bakery diproyeksikan menjadi salah satu unit usaha ULM yang dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Kafe tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat penjualan kopi dan makanan, tetapi juga menjadi etalase produk, inovasi, serta potensi bisnis yang dikembangkan dari lingkungan kampus.
“Grandis Café & Bakery diharapkan menjadi salah satu brand usaha ULM yang profesional dan berkelanjutan, bukan hanya menjual kopi dan makanan, tetapi membawa pesan bahwa kampus juga dapat menjadi tempat lahirnya produk, inovasi, dan bisnis,” tuturnya.
Kedua unit tersebut dikelola oleh BPU ULM yang memiliki tugas mengelola, mengembangkan, dan mengoptimalkan aset serta unit bisnis komersial universitas.
Melalui peluncuran Teaching Factory Coffee & Roastery dan Grandis Café & Bakery, ULM membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya kampus membangun rantai nilai kopi Kalimantan, mulai dari petani, teknologi dan pengolahan hingga industri, pasar, serta konsumen.
Dengan demikian, ULM tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga mendorong pemanfaatan hasil inovasi dan pengembangan komoditas lokal melalui kegiatan hilirisasi yang melibatkan sivitas akademika dan masyarakat.