TERAS7.COM – Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Profesor Husaini, mengingatkan bahaya partikulat halus PM2.5 yang terkandung dalam kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bagi kesehatan masyarakat.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polutan ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan hingga penyakit kardiovaskular.
Ancaman tersebut menjadi perhatian karena dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa ke wilayah lain sehingga paparan polusi berpotensi meluas melampaui titik terjadinya karhutla.
“Api mungkin terlihat di satu kawasan, tetapi asapnya dapat bergerak jauh melampaui lokasi kebakaran. Karhutla harus ditangani sebagai persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keselamatan manusia,” ucap Husaini.
Menurutnya, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan ekstra dari paparan kabut asap.
Dampak karhutla juga tidak terbatas pada kesehatan fisik. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan sosial masyarakat, serta berdampak terhadap kesehatan mental.
Husaini menilai, penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat. Upaya tersebut tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga perlu disertai pencegahan kebakaran dan perlindungan masyarakat dari paparan polusi.
Ancaman PM2.5 menjadi salah satu alasan pentingnya penanganan karhutla secara serius dan berkelanjutan. Dengan demikian, keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari padamnya api, tetapi juga dari kemampuan mengurangi paparan asap dan melindungi masyarakat dari dampak buruknya.