TERAS7.COM – Covid-19 Varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India menjadi varian virus Corona yang penyebarannya lebih tinggi dibandingkan virus varian sebelumnya.
Dengan tingkat penularan 5-8 orang, berbeda dengan varian asal dari Wuhan yang tingkat penularannya hanya 2,4-2,6 orang, membuat fasilitas kesehatan seperti rumah sakit penuh.
Akibatnya pasien positif Covid-19, khususnya yang bergejala sedang hingga ringan harus melakukan isolasi mandiri di rumah.
Namun beberapa waktu belakangan di wilayah Jawa-Bali, mulai terjadi kasus kematian pasien saat melakukan isolasi mandiri, mayoritas terjadi karena penurunan saturasi oksigen secara mendadak.
Menurut berbagai sumber, penyebab kematian pasien ialah virus Covid-19 yang membuat fungsi organ menjadi rusak, misalnya seseorang yang awalnya tidak memiliki masalah pernapasan, saat terserang membuat jaringan tubuh tidak akan bisa mengikat oksigen.
Akibat dari tubuh yang tak bisa mengikat oksigen dengan gejala sesak nafas, hal tersebut menyebabkan saturasi oksigen turun dan akhirnya membuat pasien berhenti bernapas atau meninggal.
Dikutip dari Buku Saku Covid-19 Kejaksaan Negeri Kabupaten Bandung yang dibagikan melalui media sosial, ada satu metode pertolongan pertama jika terjadi sesak nafas saat melakukan isolasi mandiri.

Metode tersebut disebut dengan Prone, dimana ada 2 posisi yakni dengan cara tengkurap atau dengan duduk bersandar agak condong ke belakang yang dilakukan selama kurang lebih 30 menit.
Jika dilakukan dengan tengkurap, posisi kepala lebih rendah dari badan dan tubuh diganjal dengan 3 buah bantal, masing-masing diletakkan dibawah tulang leher, dibawah perut dan dibawah kaki.
Kepada Teras7.com saat dihubungi via Whatsapp, Dokter Umum dr. Yusdani menjelaskan posisi prone dengan cara tengkurap tersebut bertujuan agar pengembangan paru-paru bisa lebih optimal.
“Kalau posisi prone itu tekanan paru-paru menjadi lebih rendah daripada posisi telentang, dimana titik gravitasinya mengarah ke perut atau sisi bawah. Sehingga pada waktu melakukan prone, terjadi perluasan paru lebih besar. Posisi prone ini membuat tekanan dari jantung minimal dan kerja memudahkan ventilasi paru. Makanya saturasi oksigen bisa naik,” ungkapnya.
Posisi prone tersebut lanjut Yusdani harus segera dilakukan pasien yang melaksanakan isolasi mandiri saat terasa sesak nafas atau saat saturasi oksigen berada di bawah 95 persen.
Posisi prone ini sendiri lanjutnya berguna bagi pasien yang melakukan isolasi mandiri, dimaan pada saat yang sama tidak ada tabung oksigen disekitarnya, agar tak terjadi kejadian yang cukup fatal.
“Kalau masih sesak atau saturasi oksigen di bawah 95 persen, mending segera ke RS saja,” tambahnya.
Demikian pula dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar, dr. Diauddin menganjurkan agar masyarakat mengetahui posisi prone tersebut.

“Memang posisi tersebut paling bagus untuk memaksimalkan fungsi paru-paru kita. Sebenarnya posisi itu bisa dilakukan kapanpun, namun posisi tersebut bisa menjadi pertolongan pertama ketika kondisi nafas tidak nyaman atau sesak,” bebernya.
Di Kabupaten Banjar sendiri lanjut Diauddin tak ada pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri.
“Kalau yang dinyatakan positif swab antigennya memang ada beberapa yang meninggal saat melakukan isolasi mandiri. Kita masih mencari tahu penyebabnya, tapi posisi prone ini bisa jadi pertolongan pertama ketika terjadi sesak nafas,” ujarnya.
Walaupun begitu lanjut Diauddin, pihaknya sendiri meminjamkan tabung oksigen milik puskesmas bagi pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah.
“Kalau terjadi hal darurat seperti sesak nafas, masyarakat bisa menghubungi 112. Petugas kami nanti akan menjemput dan memberikan pertolongan,” pesan Diauddin.