TERAS7.COM – Dengan jumlah jamaah haji yang cukup besar, dimana pada tahun 2018 saja ada sekitar 221.000 orang jamaah haji, Pemerintah Indonesia memerlukan petugas untuk melayani jamaah haji yang sangat banyak ini hingga setiap tahunnya Pemerintah RI melalui Kementerian Agama melaksanakan rekrutmen petugas haji.
Setelah Kantor Perwakilan (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Selatan mengumumkan rekrutmen petugas haji untuk tahun 2019 pada awal bulan februari, pada senin pagi (25/2) secara serentak diadakan tes kompetensi tahap pertama di Kantor Kemenag se Kalsel, tak terkecuali Kantor Kemenag Kabupaten Banjar.
Ketua Pelaksana Tes Rekrutmen Calon Petugas Haji Kabupaten Banjar Tahun 2019, Hadi menjelaskan bahwa secara umum rekrutmen ini dilaksanakan dalam rangka mendapatkan petugas haji yang professional.
“Kita mengadakan pemilihan petugas haji yang akan melakukan pelayanan pada jamaah haji selama di Arab Saudi, nanti setelah mereka terpilih akan ada pembekalan. Untuk Kabupaten Banjar ada 12 orang ASN Kemenag yang ikut,” jelasnya.

Dari 12 orang ASN Kemenag tersebut, ada 3 orang yang mendaftar sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, 2 orang yang mendaftar sebagai Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIHI) dan 7 orang mendaftar sebagai Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) atau Ketua Kloter.
“Tapi dari 12 orang tersebut, hanya ada 5 orang saja yang akan mengikuti seleksi tingkat selanjutnya di Kanwil Kemenag Provinsi Kalsel. Nanti akan dikirim 5 orang, 2 TPHI, 2 TPIHI dan 1 PPIH dan diseleksi lagi, belum tentu jadi petugas haji karena harus bersaing dengan calon dari Kabupaten/Kota lain dan dari ormas keagamaan serta pesantren. Kami optimis ada dari Kabupaten Banjar yang lolos jadi petugas haji tahun 2019 walaupun persaingannya agak keras,” ujarnya.
Hadi melanjutkan bahwa penilian untuk tahap pertama sendiri terdiri atas penilaian administrasi atau berkas dan kompetensi tertulis agar mendapatkan petugas haji yang benar-benar kompeten.
“Kami dapat pastikan rekrutmen petugas haji kali ini transparan, karena sejak awal sudah diumumkan di website selain di kantor, jadi lewat internet bisa diakses. Apalagi yang Kemenag cari adalah petugas haji yang professional dan berwawasan pada pelayanan pada jamaah,” tegasnya.
Ketatnya persaingan untuk menjadi petugas haji tahun 2019 tidak menyuruhkan langkah para ASN Kemenag untuk ikut serta, salah satunya Zulkifli.

“Insya Allah mudahan lolos, walaupun ini yang pertama kali ikut dalam tes ini. Harapannya mudahan mendapat hasil yang terbaik dan dapat membantu jamaah haji sebaik-baiknya bila terpilih,” ujar Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kertak Hanyar ini.
Dalam tes seleksi kali ini ia memilih menjadi TPHI atau Ketua Kloter karena pengalamannya sebagai Ketua KUA yang sering melatih manasik haji pada calon jamaah haji setiap tahunnya.
Serupa dengan Zulkifli, H. Muhammad Zubaidi yang bertugas sebagai Penghulu Fungsional KUA Kecamatan Martapura Timur pun juga pertama kali ikut serta dalam seleksi petugas haji.
“Sebelumnya saya belum pernah menjadi petugas haji, jadi agar bisa lolos saya banyak membaca buku dan referensi yang ada soal haji. Apalagi saya mendaftar menjadi TPIHI yang bertugas membimbing jamaah saat melaksanakan ibadah, bacaan-bacaan saat tawaf, sai dan sebagainya. Intinya harus menguasai manasik haji dan hukum masalah haji,” ungkapnya.
Ia juga berharap agar dapat lolos dalam tes seleksi yang pertama kali ia ikuti ini, karena baginya menjadi petugas haji merupakan sarana membantu para tamu Allah dalam beribadah.
“Harapannya mudahan lulus, karena niat saya lillahitaala untuk membantu jamaah haji, apalagi saya kan sudah berhaji,” jelasnya.
Juga ada beberapa ASN yang sebelumnya pernah mengikuti seleksi petugas haji pada tahun-tahun sebelumnya, tapi belum beruntung, salah satunya adalah Zuhri Husni yang merupakan seorang Penyuluh Agama Fungsional di KUA Kecamatan Aluh-Aluh.

“Saya sudah mengikuti tes ini beberapa kali, ini yang ketiga kali, harapannya ya kali ini bisa lolos, jadi bisa membantu para jamaah haji nantinya. Walaupun jadi TPHI diutamakan berhaji, tapi saya yang belum berhaji mudahan saja dapat lolos dan dapat kesempatan ikut berhaji bersama jamaah,” harapnya.
Zuhri Husni pada kesempatan kali ini mendaftar sebagai TPHI karena sesuai dengan tugasnya sebagai penyuluh agama untuk membimbing para jamaah haji.
“Tugas sebagai TPHI ini utamanya untuk membantu secara fisik apa yang diperlukan oleh jamaah. Jadi saya sudah melakukan persiapan agar kali ini bisa lolos, mulai dari membaca buku panduan manasik haji hingga peraturan pemerintah mengenai urusan haji,” jelasnya.
Terkait pelaksanaan tes, Zuhri Husni yang sudah pernah mengikuti tes pada tahun-tahun sebelumnya mengungkapkan bahwa soal untuk tes kompetensi tertulis tahun 2019 ini lebih sulit dari tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu soalnya cuma 50 saja, sekarang sudah 100 soal dan hampir semua materi terkait masalah manasik haji dan aturan haji masuk ke soal. Yang berbeda tahun ini ada tambahan masalah penguasaan computer dan aplikasi siskohat, tapi tidak ada soal untuk Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Agaknya tahun ini lebih ke maslah penguasaan dunia digital untuk pelaksanaan ibadah haji dan semuanya sama,” jelasnya.