TERAS7.COM – Aksi walk out yang dilakukan sejumlah cabang olahraga (cabor) dalam Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Banjarbaru bukan tanpa alasan.
Sejumlah cabor yang memilih keluar dari forum membeberkan catatan kritis terhadap jalannya proses, terutama terkait pendaftaran calon ketua dan mekanisme pencalonan yang dinilai tidak memberi ruang cukup bagi peserta.
Perwakilan Cabor Paralayang Banjarbaru, Iyep menegaskan, kehadiran mereka dalam forum bukan tanpa dasar. Mereka datang dengan mandat resmi dari organisasi.
“Kami sudah mendapatkan mandat Ketua FASI Kota Banjarbaru, makanya kami memberanikan diri datang ke sini,” ujarnya.
Ia menyoroti tenggat waktu pendaftaran yang dinilai sangat singkat. Padahal, menurutnya, dalam Musorkot tersebut pihak KONI Provinsi sudah memberikan gambaran bahwa penentuan waktu seharusnya mempertimbangkan logika.
Karena dalam AD/ART KONI, tidak diatur secara tegas batas waktu pendaftaran, sehingga penetapannya seharusnya memperhatikan kewajaran.
“Karena memang tidak ada tenggat batas waktu untuk pendaftaran dalam AD/ART, cuma pakai logika,” ucapnya.
Iyep mengungkapkan, pihaknya hanya menerima informasi pendaftaran dalam waktu sekitar satu setengah hari, yang dinilai tidak rasional.
“Jadi kita dapat informasi itu tidak sampai dua hari, sebenarnya hanya satu setengah hari saja. Itu logikanya di mana,” katanya.
Menurutnya, pelaksanaan Musorkot seharusnya berjalan dengan prinsip keterbukaan dan rasionalitas demi menjaga kepercayaan publik terhadap KONI.
“Kalau kita jalankan dengan demokrasi maka negative thinking dari masyarakat itu tidak ada. Tapi kalau seperti ini yang seakan-akan dibuat jadi calon tunggal, akhirnya menjadi respon negatif dari masyarakat,” tambahnya.
Meski memilih walk out, pihaknya menegaskan langkah tersebut bukan bentuk penolakan terhadap KONI, melainkan sebagai bentuk koreksi terhadap proses yang berjalan.
“Kami walk out ini bukan ingin lari dari KONI yang ada, tapi ingin memperbaiki supaya pendapat masyarakat tidak negatif terhadap KONI Banjarbaru,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Perwakilan Cabor Sepak Bola, Hairil Anwar. Ia juga menyoroti sempitnya waktu sejak undangan diterima hingga tahapan berjalan.
“Kami terima itu di tanggal 25. Jadi kami langsung berkonsultasi dengan Ketua dan Sekretaris. Beliau mengatakan bahwa ini tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk mencalonkan siapapun,” ungkapnya.
Selain itu, ia mempertanyakan ketentuan pencalonan yang dinilai membatasi karena hanya membuka ruang bagi unsur tertentu.
“Di poin pertama itu juga menyebutkan bahwa harus pengurus KONI kota dan KONI Provinsi yang bisa mencalon,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan pelaksanaan Musorkot sebelumnya yang memberi ruang lebih luas bagi cabor untuk mengusulkan kandidat.
“Kalau tahun-tahun lalu itu dari cabor pencalonannya. Pak Gusti Rizki itu dulu dari cabor sepak bola, beliau sebagai Ketua Harian kami, bahkan beliau tidak pernah mengundurkan diri sampai sekarang,” jelasnya.