TERAS7.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat sebanyak 19 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas lahan terbakar mencapai 29,2 hektare.
Meski demikian, status siaga darurat karhutla di Kota Banjarbaru hingga kini masih belum ditetapkan dan masih menunggu hasil evaluasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Banjarbaru, Zaini Syahranie, usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Selatan.
Menurut Zaini, penetapan status siaga darurat akan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan serta prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Saat ini Kota Banjarbaru masih belum menetapkan status siaga darurat karhutla. Penetapan status nantinya akan melihat perkembangan kondisi di lapangan dan dilakukan bersama Bapak Gubernur dengan mempertimbangkan keterangan dari BMKG,” ujarnya.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kota Banjarbaru, hingga saat ini terdeteksi tiga titik panas (hotspot).
Sementara jumlah kejadian karhutla yang telah terjadi mencapai 19 kasus dengan luas lahan terdampak sekitar 29,2 hektare.
Dalam upaya pencegahan, BPBD Banjarbaru memfokuskan pengawasan di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, seperti kawasan hutan di sekitar Bandara Syamsudin Noor, Kecamatan Cempaka, Kecamatan Landasan Ulin, dan Kecamatan Liang Anggang yang didominasi lahan gambut.
“Fokus kita ada di daerah hutan sekitar bandara, Kecamatan Cempaka, Kecamatan Landasan Ulin, dan Kecamatan Liang Anggang karena banyak lahan gambutnya.
Dari hasil pemantauan di lapangan, hampir setiap hari teman-teman memonitor kondisi air yang sudah mulai surut,” jelasnya.
Terkait penyebab kebakaran, Zaini mengungkapkan sebagian besar kasus masih sulit dipastikan karena petugas tidak menemukan pelaku saat kejadian berlangsung.
Namun, BPBD mencatat sedikitnya dua kejadian kebakaran di kawasan sekitar bandara yang dipastikan dipicu oleh aktivitas manusia.
Karena itu, BPBD Kota Banjarbaru terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko terjadinya karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
Selain melakukan sosialisasi, BPBD juga terus memantau kondisi wilayah rawan dan mengimbau masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.