TERAS7.COM – Anggota Komisi II DPRD Banjarbaru Emi Lasari, SE menegaskan pentingnya gerakan pengelolaan sampah dari rumah tangga.
Emi menilai, masalah sampah di Banjarbaru tak bisa hanya ditangani pemerintah, melainkan perlu partisipasi aktif masyarakat melalui penguatan peran bank sampah.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan peningkatan fungsi pengawasan terhadap Perda Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah, yang digelar di Aula Kelurahan Syamsudin Noor, Senin (20/10/2025).
Kegiatan bertema “Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Menuju Banjarbaru Bersih dan Berkelanjutan” itu diikuti para pengurus bank sampah dari Kelurahan Landasan Ulin Timur dan Syamsudin Noor, dengan menghadirkan narasumber dari akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus Pegiat Lingkungan.
“Kami ingin memastikan perda ini benar-benar berjalan di lapangan. Kota Banjarbaru kini memproduksi sekitar 192 ton sampah setiap hari, atau rata-rata 0,7 kilogram per orang,” ujar Emi.
“Kalau dibiarkan tanpa pengelolaan berkelanjutan, kapasitas TPA hanya cukup tiga tahun lagi. Karena itu, pengelolaan sampah dari sumbernya jadi kunci,” tambahnya.
Menurut Emi, salah satu strategi yang didorong adalah memaksimalkan fungsi bank sampah. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima sosialisasi perda, tetapi juga pelatihan pengelolaan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomis seperti sabun, pupuk cair, dan eco-enzim.
“Produksi sampah terbesar berasal dari rumah tangga. Kalau pengelolaannya dimulai dari sana, hasilnya akan signifikan. Selain mengurangi timbunan sampah, masyarakat juga bisa mendapat nilai ekonomi,” jelasnya.

Emi berharap kegiatan seperti ini bisa memperkuat peran bank sampah sebagai ujung tombak edukasi lingkungan di masyarakat.
“Yang paling penting adalah mengubah perilaku. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Bank sampah harus jadi mitra utama dalam menciptakan Banjarbaru yang bersih dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Eng. Akbar Rahman, ST., MT, akademisi ULM sekaligus pegiat lingkungan, menekankan pentingnya mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Selama ini mindset masyarakat masih berpegang pada prinsip lama ‘buanglah sampah pada tempatnya’. Padahal prinsip itu justru berarti menumpuk sampah. Sementara saat ini, permasalahan kita adalah tumpukan sampah yang terus meningkat,” jelasnya.
“Karena itu masyarakat perlu diedukasi bahwa mereka sebenarnya bisa mengelola sampah dari rumahnya sendiri, sehingga timbunan sampah bisa ditekan,” lanjutnya.
Akbar menjelaskan, sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol bisa disetorkan ke bank sampah, sementara sampah organik dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan melalui teknik eco-enzim, komposter, takakura, biopori, hingga budidaya maggot.
“Ketika masyarakat mulai mengelola sampahnya sendiri, muncul banyak ide kreatif. Bahkan dari limbah rumah tangga bisa dihasilkan produk bernilai ekonomi. Sampah bisa jadi uang,” tandasnya.
Saat ini di Kecamatan Landasan Ulin tercatat terdapat 25 bank sampah aktif, yang diharapkan dapat menjadi penggerak utama gerakan Banjarbaru Bersih dan Berkelanjutan.