TERAS7.COM – Mandai yang berasal dari kulit cempedak sudah tidak asing lagi bagi warga Kalimantan Selatan, bahkan makanan ini disebut-sebut menjadi kuliner khas Kalsel. Mandai merupakan salah satu olahan dari kulit buah Tiwadak atau Cempedak, yang direndam dengan air dan garam.
Ada puluhan lebih warga yang berjejer dipinggir jalan menjual tiwadak dan mandai, tepatnya di Desa Riwa Kecamatan Batumandi Kabupaten Balangan ini, salah satu pengolah dan penjualannya adalah Shifa.
Perempuan asli Batumandi ini mengatakan mengolah mandai tak terlalu sulit bahkan tak ada peralatan mewah yang digunakan, kulit tiwadak dikupas lalu direndam didalam gelas plus ditambah garam sebagai pengawet alami suapaya kulit Cempedak tetap awet.
“Cuman kalau pertama kali mengolah, bisa tidak pas takaran garamnya, kalau tidak pas bisa cepat busuk, mandainya jadi lemah dan tak enak lagi dimakan,” ujarnya teras7.com Sabtu (12/12/20).

Menurut wanita yang 5 tahun lebih berjualan mandai ini, untuk takaran garam harus pas, atau lebih tidak jadi masalah. Sementara itu untul saat ini, untuk bahan berjualan madai di tempatnya harus membeli di tempat orang karena bahan yang iya miliki telah habis di olah.
Sementara itu, untuk mengikuti perkembangan jaman, ia mengatakan penjualan dan olahan, juga lebih kreatif dilakukan. Untuk penjualan sendiri ujarnya juga dilakukan secara online, dan untuk pelanggan atau reseller di beri potongan harga. Sedangkan untuk olahan Mandai, ia menjadikan snack atau makanan ringan, seperti mandai krispi.
Di tempatnya berjualan, selain menjual Mandai dan Mandai Crispy saja, ada pula Sirup Batumandi atau Sirbam, Rimpi tiwadak (buah cempedak yang telah di keringkan. Untuk harga Mandai di patok mulai dari 10 ribu hingga 50 ribu sesuai dengan besaran gelasnya, untuk Mandai Crispy 10 hinga 25 ribu sesuai dengan banyak isinya. Sedangkan untuk Sirbam dijual mulai dari 18 ribu hingga 25 ribu sesuai ukuran gelasnya, dan terakhir rimpi di jual 5 ribu satu bungkusnya.

“Untuk mandai penjualannya selama satu bulan, lebih dari 50 gelas, dan omzet untuk satu bulannya bisa mencapai satu juta lebih perbulan. Hal ini membuat Shifa, menjadikan mandai sebagai ladang penghasil pundi-pundi rupiah, lewat Mandai,” ucapnya.
Dilanjutkan dia, untuk pembeli biasanya lebih banyak dari luar daerah, sebagi oleh oleh, dan tidak jarang pula warga Balangan yang membelinya.
Di kesempatan yang sama, salah seorang warga Hulu Sungai Tengah (HST) Riduan mengungkapkan, bahwa ia ingin membelikan Mandai dan Sirbam untuk oleh-oleh temannya.
“Ini untuk oleh-oleh teman saya, yang ada di Tabalong, katanya mau mandai sama Sirbam,” tuturnya.
Menurutnya Mandai ini memiliki, kenikmatan tersendiri, mampu di olah basah ataupun kering serta awet tahan lama.