TERAS7.COM – Pada periode Juli 2021, Provinsi Kalimantan Selatan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,17 persen. Hal ini utamanya bersumber dari kelompok pendidikan dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya.
Selain itu, inflasi di Banua terjadi karena sejalan dengan peningkatan biaya sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMA
“Teori inflasi adalah kenaikan harga secara umum atau terus-menerus dalam waktu tertentu. Maka, pengendalian inflasi dengan cara menciptakan stabilitas harga,” jelas Penjabat (Pj) Gubernur Kalsel, Safrizal ZA pada kegiatan High Level Meeting (HLM) dan Rakorda Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se- Kalsel, Semester II Tahun 2021.
Maka dari itu, kegiatan ini dilaksanakan demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan melalui pengendalian inflasi yang rendah dan stabil.
Meski demikian, perekonomian Kalsel terpantau mulai tumbuh positif. Jika pada triwulan I 2021 perekonomian terkontraksi 1,25 persen (year on year), maka triwulan II 2021 menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 4,40 persen.
Lebih jauh, Pj Gubernur Kalsel ini pun mengingatkan untuk menerapkan Prinsip ADA (Availability, Distribution, dan Affordability) sebagai upaya mengendalikan inflasi.
“Availability diartikan sebagai ketersediaan barang. Jadi ada stok yang tak terputus. Penting kita menjaga ketersediaan barang.”
Mengenai Distribusi, Safrizal memberikan contoh kasus inflasi yang terjadi ketika akses Jalan Gubernur Syarkawi rusak dan jembatan terputus. Hal tersebut menghambat distribusi pasokan kebutuhan pokok.
“Dengan kerja sama dan komunikasi, akhirnya akses bisa lancar kembali. Jadi, jika stok ada tapi tidak bisa didistribusikan, harga bisa tak terkendali,” pungkasnya.
Kemudian, affordability atau keterjangkauan dalam hal harga, stabilitas, distribusi, maupun low inforcement untuk oknum yang bermain harga.
“Ini menjadi strategi kita bekerja agar inflasi terkendali sehingga pertumbuhan bisa terus terjaga,” tandasnya.