TERAS7.COM – Penghentian suplai air bersih di beberapa wilayah di Kabupaten Banjar beberapa waktu lalu mendapat perhatian serius dari Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjar.
Hal ini dilaksanakan Komisi II DPRD Banjar dengan mengundang seluruh jajaran PT. Air Minum Intan Banjar (Perseroda) dalam Rapat Dengar Pendapat di gedung DPRD Banjar pada Kamis (20/01/2022).
Anggota Komisi II DPRD Banjar Saidan Pahmi usai menghadiri rapat mengungkapkan rapat ini digelar dalam rangka menyikapi keluhan masyarakat terhadap pelayanan air bersih PT. Air Minum Intan Banjar (Perseroda) yang kurang lancar.
“Ada dua pokok persoalan yang menjadi perhatian komisi II yakni persoalan distribusi air yang kurang lancar di beberapa tempat di lokasi perbatasan kabupaten Banjar dan kedua soal penghentian sementara distribusi air bersih yang melebihi jadwal pengumuman,” ungkap Saidan.
Anggota legislatif asal Sungai Tabuk ini mengingatkan PT. Air Minum Intan Banjar (Perseroda) agar dalam setiap penghentian distribusi air bersih selalu mengumumkan melalui media sosial secara resmi agar masyarakat tahu dan bisa menyiapkan diri dengan menyetok air bersih di rumah masing-masing.
“Jika penghentian distribusi air bersih melebihi jadwal yang diumumkan, sudah selayaknya pihak Perseroda memberikan layanan air bersih melalui mobil tanki ke pelanggan yang terdampak,” usulnya.
Anggota fraksi Demokrat ini juga menyesalkan pihak admin pengelola media sosial PT. Air Minum Intan Banjar yang membatasi masyarakat untuk berkomentar memberikan saran, kritik dan masukan terhadap pelayanan air bersih oleh Perseroda ini.
“Jika admin membatasi masyarakat untuk berkomentar di akun media sosialnya, ini menunjukkan ketidaksiapan perseroda untuk membuka diri terhadap segala kritik dan saran yang diberikan pelanggan,” ungkapnya.
Dampak dari dibatasinya komentar di akun resmi Perseroda Intan Banjar menurut Saidan, masyarakat akan mengadukan keluhannya ke akun medsos lainnya seperti mengadukan ke Bupati, anggota DPRD, Ombudsman dan sebagainya.
Terhadap ketidaklancaran distribusi air bersih yang sering dialami pelanggan Intan Banjar terutama di daerah perbatasan, menurut Saidan perlu kebijakan strategis dari pemerintah daerah untuk melakukan penyertaan modal guna mengganti sistem perpipaan yang lebih besar, mengingat pipa yang ada sudah tidak mampu lagi karena penambahan jumlah pelanggan dari tahun ke tahun.