TERAS7.COM – Angka putus sekolah yang cukup tinggi di Kabupaten Banjar bukan lantaran tidak melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, akan tetapi banyak siswa yang melanjutkan pendidikan ke bidang keagamaan, sehingga tidak terdata di statistik. Misal ke Tarim, Dalwa dan pondok pesantren lainnya di pulau jawa.
Hal itu diungkapkan Muhammad Iqbal Khalilurrahman usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Banjar Anna Rusiana bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar Liana Penny beserta jajaran, Kamis (28/11/2024) pagi.
“Kalau lanjut sekolah ke pondok, siswa itu tidak terdaftar di data statistik itu, jadi dianggap putus sekolah padahal tidak, jadi angka putus sekolah sebenarnya minim saja,” ujarnya.
Menurut Iqbal kejar paket kesetaraan yang dilakukan oleh Pemkab Banjar selama ini adalah cara yang baik bagi para pelajar di pondok pesantren. Ia menyarankan agar pendidikan kesetaraan bisa lebih ditingkatkan lagi.
“Selama ini kesetaraan memang sudah jalan, tapi sekarang yang sekolah di pondok dianjurkan atau diwajibkan kejar paket kesetaraan itu, biar mereka punya ijazah juga,” katanya.
Lebih baik lagi lanjut Iqbal jika program kesetaraan itu ada beasiswanya dari pemerintah. Selain itu bantuan seragam sekolah dan transportasi antar jemput siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Liana Penny sendiri dikatakan Iqbal setuju dengan masukan yang diberikan, karena dengan begitu orang tua siswa kesetaraan tidak harus mengeluarkan biaya yang banyak untuk anak.