TERAS7.COM – Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah rawa dan permukiman padat di Desa Benua Raya, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, mendorong mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
Melalui Program Bina Desa Berdampak, sebanyak 15 mahasiswa gabungan dari Fakultas MIPA dan Fakultas Kehutanan menginisiasi gerakan “Rumah Sehat Bebas Nyamuk Aedes aegypti” sebagai upaya pencegahan DBD berbasis aksi langsung di lapangan.
Ketua kelompok, Maulida, mengungkapkan kondisi geografis desa yang didominasi lahan rawa serta kepadatan permukiman menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyebaran nyamuk penyebab DBD. Data tahun 2024 yang mencatat tiga kasus DBD di desa tersebut turut memperkuat urgensi pelaksanaan program.
“Kami melihat perlunya intervensi berbasis edukasi dan aksi langsung agar masyarakat mampu menciptakan lingkungan rumah yang sehat dan bebas dari nyamuk penyebab DBD,” jelasnya.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyuluhan, tetapi juga menghadirkan langkah konkret yang mudah diterapkan masyarakat. Mahasiswa melatih warga membuat perangkap nyamuk sederhana dari bahan yang mudah didapat, serta mengajak masyarakat menanam serai wangi sebagai tanaman pengusir nyamuk alami.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan survei lingkungan, pendampingan langsung, hingga monitoring berkala untuk memastikan efektivitas program yang dijalankan.
Pendekatan yang dilakukan secara langsung ke masyarakat ini mendapat respons positif. Warga bersama pemerintah desa terlibat aktif sejak tahap awal hingga evaluasi program.
“Respons warga sangat positif. Pemerintah desa dan masyarakat terlibat aktif sejak awal hingga tahap monitoring,” kata Maulida.
Melalui kegiatan ini, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti mulai meningkat.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pencegahan DBD tidak hanya dapat dilakukan melalui imbauan, tetapi juga melalui aksi nyata yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Ke depan, program serupa diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi model pencegahan DBD berbasis komunitas yang dapat diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik serupa.