TERAS7.COM – Mengantisipasi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi akibat fenomena El Nino pada 2026, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mulai memperkuat langkah pencegahan di sektor pertanian dan perkebunan. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi hingga pemantauan langsung ke lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Banjar, Warsita mengatakan, pihaknya telah mengingatkan kelompok tani serta perusahaan perkebunan agar lebih siap menghadapi ancaman kekeringan maupun kebakaran lahan saat musim kemarau.
Menurutnya, langkah pencegahan menjadi fokus utama agar dampak yang ditimbulkan tidak meluas, terutama di kawasan yang selama ini tergolong rawan kebakaran.
“Antisipasi sudah dilakukan sejak awal melalui sosialisasi kepada kelompok tani dan perusahaan perkebunan. Pencegahan ini penting supaya potensi kebakaran bisa diminimalkan,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Selain memberikan edukasi, Distan Banjar juga melakukan monitoring ke sejumlah perusahaan perkebunan guna memastikan kesiapan sarana penanganan kebakaran, termasuk peralatan pendukung di lapangan.
Dari hasil pemantauan sementara, sebagian besar perusahaan dinilai telah memiliki kesiapan menghadapi musim kemarau. Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan secara berkala.
Warsita menyebut wilayah Kecamatan Cintapuri Darussalam menjadi salah satu daerah yang kerap mengalami kebakaran lahan, khususnya di area perkebunan. Karena itu, perhatian terhadap wilayah tersebut terus ditingkatkan.
“Daerah yang cukup rawan memang di kawasan Cintapuri, terutama area perkebunan. Maka pencegahan terus diperkuat,” katanya.
Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi kemarau panjang pada tahun depan, hingga kini Distan Banjar belum menerima laporan dampak serius terhadap lahan pertanian di daerah tersebut.
Ia berharap kondisi cuaca di Kalimantan Selatan tidak mengalami kekeringan ekstrem sehingga aktivitas pertanian masyarakat tetap berjalan normal.
Sebagai bagian dari edukasi adaptasi perubahan iklim, Distan Banjar juga menjalankan program sekolah iklim di wilayah Sungai Tabuk. Program itu ditujukan untuk meningkatkan pemahaman petani terkait pola cuaca dan langkah mitigasi di lapangan.
Warsita pun mengimbau masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha perkebunan, agar rutin memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG maupun pemerintah daerah guna mempercepat langkah antisipasi apabila terjadi perubahan kondisi cuaca ekstrem.