TERAS7.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam habitat bekantan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Sebanyak 12 bekantan ditemukan mati terbakar setelah habitatnya terdampak kebakaran.
Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna Kepakisan, mengatakan jumlah tersebut diketahui setelah tim melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Sebelumnya, BKSDA menerima informasi awal sebanyak 10 bekantan terdampak.
“Awalnya kami menerima informasi ada 10 bekantan yang terdampak. Setelah kami turun ke lapangan dan melakukan pengecekan, ternyata ada 12 ekor yang ditemukan mati akibat terbakar,” jelas Agus.
Tim BKSDA turun pada Senin pagi setelah menerima laporan pada Minggu malam (13/09/2026). Bersama pemerintah desa dan warga, petugas menyisir kawasan hingga sepanjang sungai dan menemukan 12 bekantan dalam kondisi mati akibat terbakar. Bangkai satwa kemudian dikuburkan.
Karhutla tersebut berdampak pada sekitar 9 hektare lahan. BKSDA menilai kejadian ini menjadi perhatian karena bekantan merupakan satwa dilindungi sekaligus salah satu ikon Kalimantan Selatan.
Berdasarkan estimasi BKSDA tahun 2025, populasi bekantan di Kalsel sekitar 3.700 ekor. Sekitar dua pertiganya berada di luar kawasan konservasi, termasuk di kawasan APL.
Habitat bekantan yang terbakar di Balimau juga berada di APL atau lahan milik desa. Di kawasan lain, tim BKSDA masih menemukan 32 bekantan dari kelompok yang sama dalam kondisi hidup.
Agus mengatakan perlindungan habitat bekantan perlu diperkuat, termasuk di luar kawasan konservasi.
“Bekantan ini merupakan satwa yang dilindungi dan juga menjadi ikon Kalimantan Selatan. Karena itu, habitatnya perlu kita jaga bersama, termasuk yang berada di luar kawasan konservasi,” ujarnya.
BKSDA selanjutnya berencana menginventarisasi habitat bekantan di kawasan APL, melakukan sosialisasi kepada pemerintah desa, serta memperkuat upaya penyelamatan satwa melalui pusat penyelamatan dan layanan call center.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan habitat bekantan sekaligus mencegah kejadian serupa akibat karhutla.