TERAS7.COM – Isu “permainan” yang dilakukan oleh pangkalan dan agen gas subsidi 3 kilogram (kg) semakin berhembus kencang usai melambung tingginya harga tabung berwarna hijau tersebut.
Di Kota Banjarbaru, harga gas subsidi 3 kg atau gas melon ini melambung tinggi hingga Rp 45.000 per tabung di warung dan kios yang menjualnya eceran.
Alhasil, melambungnya harga gas 3 kg ini menuai keresahan di masyarakat dan menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk DPRD Kota Banjarbaru.
Saat dikonfirmasi perihal ini ke Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Kota Banjarbaru, Abdul Basid, dirinya mengatakan, bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan evaluasi ke setiap kelurahan terkait mahalnya harga gas subsidi 3 kg yang meresahkan masyarakat tersebut.

“Saat ini kita sedang melaksanakan evaluasi di setiap kelurahan,” ujar Kadisdag Banjarbaru. Jumat (19/08/2022).
Terkait penyebab melambungnya harga gas 3 kg ini, Kadisdag Banjarbaru mengatakan, kemungkinan besar faktornya karena kenaikan harga gas non subsidi.
“Kalau ditanya kenapa, mungkin ada beberapa sebab, diantaranya harga Gas Non Subsidi yang naik, sehingga mungkin ada masyarakat yang berpindah menggunakan gas subsidi,” katanya.
Sementara itu, Kabid Perdagangan Disdag Kota Banjarbaru, Anshori menyebutkan per bulannya, Kota Banjarbaru menerima sebanyak 171.500 tabung gas subsidi 3 kg dari Pertamina untuk 308 pangkalan yang tersebar. Sedangkan, untuk kartu kendali yang sudah terima masyarakat sebanyak 26.731 buah.
Terkait kejomplangan perbandingan antara penerimaan kuota gas 3 kg dari Pertamina dan Kartu Kendali yang disebar ini, menurutnya karena perpindahan usaha pangkalan dari minyak tanah ke gas subsidi tersebut.
“Dulu pemindahan pergantian pangkalan minyak tanah ke gas subsidi 3 kg,” ucapnya.
Sebelumnya, Rinda masyarakat Landasan Ulin juga mengeluhkan terkait melambungnya harga gas bersubsidi tersebut.
Ditambah lagi menurutnya, meski sudah melambung tinggi harganya, gas 3 kg masih sulit didapat.
“Beli di luaran itu mulai harga Rp 38 ribu, sampai Rp 45 ribu, itupun sulit juga dapatnya,” ungkapnya.
Kemudian, permasalahan melambungnya harga gas 3 kg ini juga menjadi sorotan Wakil Ketua Komisi III DRPD Kota Banjarbaru, Emi Lasari.
Seharusnya menurut Emi, hal ini seharusnya bisa jauh lebih terkontrol, sebab Kota Banjarbaru sudah memiliki kartu kendali.
Kalau secara hitung-hitungan, menurut Emi kebutuhan gas 3 kg dan kartu kendali yang disebar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru harusnya mencukupi, tidak sampai menyebabkan masyarakat membeli eceran ke kios-kios.
Sehingga ia menduga, ada kesalahan terkait mekanisme kartu kendali di lapangan yang mengakibatkan harga gas 3 kg di Kota Banjarbaru melambung tinggi hingga Rp 45.000 per tabung.
“Kalau pun misalnya kouta dan kebutuhan gas 3 kg itu sudah satu garis atau sama, berarti mekanisme kartu kendali di lapangan yang salah,” tambahnya.
Padahal diketahui, Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji 3 kg sesuai Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No 188.44/ 0385/KUM/2022 di pangkalan hanya Rp 18.500 per tabung.