TERAS7.COM – Antisipasi menjelang musim kemarau, Kapolsek Pulau Laut Timur Polres Kotabaru menggelar rapat koordinasi (Rakor) kesiapan pencegahan dan penanganan terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bersama Muspika bertempat di Aula Kecamatan Pulau Laut Timur, Kamis (09/02/23).
Acara rakor ini diikuti Camat Pulau Laut Timur Drs.Tri Basuki Rachmad, Danramil 1004-07 Kapten Inf Tata Ramdan, serta perwakilan perusahaan PT SSC, PT BSS, PT Hilcon juga para kepala desa se- kecamatan.
Adapun beberapa hasil keputusan rakor ini disampaikan Kapolres Kotabaru AKBP M.Gafur Aditya Siregar S.I.K melalui Kapolsek Pulau Laut Timur Iptu Kuwat Santoso sepakat menyampaikan imbauan sekaligus edukasi kepada masyarakat luas supaya tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan sembarangan, untuk mengantisipasi kejadian Karhutla di wilayah kerja masing-masing.
“Rakor ini diselenggarakan sebagai upaya antisipasi apabila terjadi Karhutla. Sehingga seluruh stakeholder terkait dapat bersinergi dan terkoordinir dengan baik dalam melakukan pengendalian Karhutla. Selain itu juga merupakan upaya menekan dampak negatif dan kerugian dari multi sektor yang ada,” terangnya.
Iptu Kuwat Santoso memaparkan, di Kecamatan Pulau Laut Timur terdapat titik hotspot terbanyak yaitu 82 Titik terkait Karhutla di tahun 2019 lalu. Dan diperkirakan pada bulan Juni 2023 menurut perkiraan BMKG akan terjadi titik panas.
“Ada beberapa Desa di Kecamatan Pulau Laut Timur yang menjadi perhatian untuk Karhutla mengacu pada di kejadian-kejadian tahun 2019, daerah rawan Karhutla antara lain : wilayah Desa Sungai Limau, Desa Karang Sari indah, Desa Sejakah dan Desa Tanjung Pengharapan,” terang Kapolsek.
“Untuk itu perlu adanya peningkatan upaya penanganan, pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan, kesinergian langkah, salah satunya melalui kegiatan rakor yang dilaksanakan hari ini, juga melakukan pemasangan spanduk imbauan dibeberapa titik lokasi, supaya masyarakat mengetahui dan paham sanksi apa saja yang diterapkan bagi yang melanggar,” imbuhnya.

Pada tahun 2019 jelas Kapolsek, wilayah IUP PT SSC penyumbang timbul titik hotspot terbanyak. Karena faktor yang menyebabkan Karhutla antara lain, faktor sengaja juga faktor alam.
Di akhir penyampaiannya Kapolsek berharap agar para kepala desa mengimbau warganya dalam tentang pencegahan Karhutla serta mensosialisasikan ke masyarakat, dan perusahaan yang beroperasi di wilayah Pulau Laut Timur juga diharapkan kerjasamanya dalam penanganan Karhutla serta bisa membantu menyiapkan sarana dan prasarana pemadam kebakaran lahan juga pembuatan posko pemadam kebakaran di area perusahaan untuk antisipasi apabila terjadi Karhutla.
“Penanganan, penanggulangan dan pengurangan resiko bencana, merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Kedepan dalam Karhutla tidak ada toleransi bagi yang membakar lahan, baik koorporasi maupun individu, kita proses hukum. “Stop pembakaran Hutan dan Lahan”. Jagalah hutan kita dari pembakaran liar. Jangan cemari udara kita dengan asap. Ayo kita cegah pembakaran hutan dan lahan,” tegas Kapolsek Iptu Kuwat Santoso.

Sementara itu, hal senada juga disampaikan Kepala Desa Betung Asli Alatas dalam keterangannya ia mengatakan, pencegahan Karhutla perlu kerjasama semua pihak.
“Untuk pencegahan Karhutla perlu kerjasama semua pihak, termasuk perusahaan yang ada beroperasi diwilayah Pulau Laut Timur. Dan tak kalah penting adalah kesadaran, serta peran masyarakat tentang pentingnya pencegahan Karhutla,” ujar Kades Betung Asli Alatas kepada teras7.com saat dikonfirmasi Kamis malam.