TERAS7.COM – Curah hujan yang cukup tinggi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan membuat air sungai meninggi sejak Sabtu (31/10) kemarin.
Dikutip dari VOA Indonesia, Curah hujan tinggi ini menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi akibat fenomena La Nina yang terdeteksi di Samudera Pasifik pada awal Oktober 2020 dan berpeluang meningkatkan curah hujan hingga 40 persen di atas normal pada Oktober-November.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan curah hujan bulanan berpotensi meningkat 40 persen di atas normal pada Oktober-November di hampir semua wilayah Indonesia, kecuali Sumatera.

Dwikorita menjelaskan dari hasil pengamatan suhu muka air laut di Samudera Pasifik selama dua bulan, fenomena La Nina tahun mulai terjadi dan diprediksi pada level moderat.
La Nina adalah anomali pada suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang berakibat aliran udara basah yang kuat dari arah Samudera Pasifik bagian tengah ekuator menuju kepulauan Indonesia.
“Karena ini ketahuannya sudah Oktober baik dideteksi oleh Amerika (NOAA), Jepang (JMA), Australia (BoM) dan Indonesia (BMKG), maka kami mengajak bapak-ibu semua untuk bersiap karena ini sudah di depan mata kita,” kata Dwikorita.

Peningkatan curah hujan yang tinggi itu dikhawatirkan akan menyebabkan bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan banjir, sehingga semua pihak perlu segera melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana agar tidak ada korban jiwa.
Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang disebabkan fenomena cuaca seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hujan es, dan angin puting beliung.
Para pemangku kepentingan diharapkan mengoptimalkan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir, misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Sementara itu Komandan Kodim 1006/Martapura, Letkol Arm Siswo Budiarto menegaskan dan mengingatkan agar para Babinsa terus memantau wilayah binaan dan melaporkan setiap perkembangannya saat memasuki musim penghujan seperti sekarang.
“Saya sampaikan agar semua Babinsa terus bekerja sama dengan aparat Desa serta elemen masyarakat di wilayah apabila disaat hujan deras dan terjadi tanah longsor, banjir atau kejadian lainnya maka bisa segera diambil tindakan penanganan cepat dan tepat sesuai kejadian di lapangan,” ucapnya.
Tindakan penanganan cepat dan tepat ini kata Letkol Siswo harus dilaksanakan pada wilayah-wilayah yang rawan terjadi tanah longsor dan banjir sesuai peta situasi di Koramil masing-masing.
Dandim mengungkapkan saat ini mulai terjadi beberapa bencana Banjir di Hulu Sungai, Cempaka, Pengaron juga desa Tunggul Hirang akibat luapan air sungai.
“Karena itu saya menghimbau agar rekan – rekan Babinsa terus mengingatkan warga binaannya terutama yang rumahnya dibangun tepi sungai atau di bagian lereng diminta supaya lebih berhati-hati, karena dikhawatirkan hujan deras menyebabkan longsor dan banjir,” pesannya.
Menurut pantauan dan informasi BMKG cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina ini diperkirakan akan berlangsung hingga puncaknya pada Februari 2021.