TERAS7.COM – Suara tabuhan gendang dan riuh tepuk tangan membaur di Ruang Terbuka Publik Kawasan Rantau Baru, Jumat malam (1/8/2025). Tapin Art Fest 2025 resmi dibuka, dan sejak awal, nuansa yang terasa bukan sekadar festival—tapi kebanggaan.
Di balik panggung, sekelompok anak muda sibuk mempersiapkan pertunjukan. Mereka bukan dari agensi luar daerah, bukan pula artis ibu kota. Mereka adalah anak-anak Tapin sendiri—pelajar, mahasiswa, pegiat seni lokal—yang menata lampu, melatih penari, hingga mendesain dekorasi bambu khas Banjar.
“Yang bikin kami bangga, semuanya dikonsep oleh anak-anak muda Tapin. Kreativitas mereka luar biasa,” ujar Bupati Tapin, H. Yamani, dengan mata berkaca saat memberikan sambutan.
Festival yang berlangsung 1–6 Agustus 2025 ini tidak hanya menghadirkan seni tradisional dan musik daerah, tapi juga menampilkan stan-stan UMKM lokal. Ada kue tradisional, kerajinan tangan, hingga fashion berbahan sasirangan.
Salah satu pelaku UMKM, Ibu Nuraini, pemilik usaha keripik pisang rumahan dari Bungur, mengaku senang bisa ikut serta.
“Dulu saya jualan hanya lewat WhatsApp. Sekarang bisa ketemu banyak orang, bahkan ada dari kementerian yang mampir ke stan,” tuturnya sambil melayani pembeli.
Tak hanya warga, Tapin Art Fest juga dihadiri perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI serta perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Mereka menyaksikan langsung bagaimana semangat lokal hidup dalam tiap pertunjukan dan produk yang ditampilkan.
Ketua DPRD Tapin, H. Achmad Riduan Syah, yang menyempatkan hadir bersama keluarga, mengungkapkan rasa bangganya.
“Melihat anak-anak kita tampil dengan penuh percaya diri, ini adalah investasi sosial yang tak ternilai. Saya yakin, dengan semangat seperti ini, Tapin akan terus tumbuh,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati H. Juanda, menyoroti potensi luar biasa dari karya anak muda lokal.
“Tarian pembuka tadi karya anak-anak dari Benua. Bukan impor, bukan hasil pelatihan luar. Ini murni dari Tapin, dan kualitasnya membanggakan,” ujarnya.
Tapin Art Fest bukan sekadar panggung seni. Ia menjadi ruang bertemu—antara tradisi dan inovasi, antara warga dan pengambil kebijakan, antara usaha kecil dan harapan besar.
Bupati Yamani pun berharap festival ini bisa kembali masuk dalam jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun depan. Namun lebih dari itu, ia ingin masyarakat Tapin terus percaya pada kekuatan lokal.
“Kita tidak perlu meniru luar. Yang kita punya saja sudah luar biasa, tinggal bagaimana kita rawat bersama,” pungkasnya.