TERAS7.COM – Beri Daku Sumba
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
1970

Demikianlah puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul Beri Daku Sumba. Puisi ini begitu syahdu ketika dibacakan oleh suara lantang Assyifa, salah seorang peserta Tadris Puisi yang digagas oleh Komunitas Perahu Kata.
Sekadar diketahui, belum lama ini, komunitas sastra yang berada di Kota Marabahan Kabupaten Barito Kuala ini sukses menggelar acara Tadris Puisi.
Sekretaris Komunitas Perahu Kata Muhammad Noor Fadillah mengatakan, Tadris Puisi 2023 diadakan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat berliterasi dan memajukan kesusastraan di Kabupaten Barito Kuala.
Yang tak kalah penting, jelasnya, Tadris Puisi menjadi ajang silaturrahmi dan diskusi antar sastrawan, seniman, budayawan, pegiat sastra, para guru, pelajar, dan masyarakat Kabupaten Barito Kuala.
Pria yang akrab disapa Fadil ini memaparkan, tadris diambil dari Bahasa Arab yang berarti suatu upaya untuk menjadikan murid (mutadarris) agar mau membaca, mempelajari dan mengkaji sendiri.
Dalam Tadris, lanjutnya, seorang murid diharapkan mengetahui dan memahami dengan benar apa yang disampaikan oleh mudarris (guru) serta dapat mengamalkan di dalam kehidupan sehari-hari.
“Diksi Bahasa Arab ini sengaja diambil karena dilaksanakan dalam suasana bulan Ramadhan. Dan insya Allah harapan kita semua agar Tadris Puisi ini menjadi agenda tahunan di bulan Ramadhan,” timpalnya.
Pria yang mahir menulis cerpen ini juga menyampaikan, Tadris Puisi Tahun 2023 yang telah sukses digelar tersebut mengusung tema Hujan Kata di Bulan Cahaya.

Menurutnya, diksi hujan sengaja diambil mengingat belakangan ini di tempat Kota Marabahan sering terjadi hujan. Adapun Hujan Kata menggambarkan sebuah hari di mana ada banyak kata yang terucap.
“Kata-kata yang membawa ide, gagasan, suara hati, dan dialektika untuk perkembangan umat manusia,” imbuh Fadil.
Selain itu, tambahnya, hujan juga selalu membawa kesuburan. Karena itu semoga Hujan Kata dapat membawa kesuburan kepada literasi dan kesastraan di Kabupaten Barito Kuala.
Sementara kalimat Bulan Cahaya, lanjut Fadil, menggambarkan bulan Ramadhan ini sebagai bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan.
Lebih lanjut, kata Fadil, Komunitas Perahu Kata sebagai komunitas literasi, akan mentargetkan anak-anak muda termasuk pelajar di dalamnya untuk memiliki semangat berliterasi yang baik.