TERAS7.COM – Sanggar Kamilau Intan yang diketuai oleh Sosok Penata Tari, Ronny Arifin belakangan ini meraih berbagai prestasi, diantaranya menjadi juara umum dan 3 penghargaan yakni Penyaji Tarian Terbaik, Penata Tari Terbaik, hingga Penata Musik Terbaik pada Festival Karya Tari Daerah (FKTD) Kalimantan Selatan 2023.
Prestasi Juara Umum FKTD 2023 yang diraih menjadi kebanggan tersendiri bagi Sanggar Kamilau Intan, karena merupakan pencapaian perdana perwakilan dari Kabupaten Banjar selama kurang lebih 30 tahun lamanya.
Sanggar Kamilau Intan pun juga mendedikasikan prestasi yang diraihnya tersebut untuk kado manis Harjad ke-73 Kabupaten Banjar.
Sayangnya, kebahagian yang dirasakan Sanggar Kamilau Intan tidak berlangsung lama, karena harus merasakan kekecewaan begitu cepatnya.
Ironisnya, kekecewaan ini didapat oleh Sanggar Kamilau Intan saat menampilkan tarian Pusara Kasih pada Puncak Harjad ke-73 Kabupaten Banjar, yang awalnya digadang menjadi momen kebanggan bagi para penari.
“Sungguh sangat mengecewakan, aku sangat kecewa di bulan kemerdekaan dan di Hari kebahagiaan Kabupaten Banjar ini kami dari Sanggar Kamilau Intan sungguh tidak merasakan sebuah kebahagiaan itu,” ungkap Penata Tari sekaligus Ketua Sanggar Kamilau Intan Ronny Arifin, pada Kamis (31/08/2023).
Bukan tanpa sebab, kata Ronny, para penari dengan semangat begitu tinggi untuk memberikan yang terbaik di Puncak Harjad ke-73 Kabupaten Banjar itu, malah tidak mendapat apresiasi dan seolah tak dihargai.

“Kami dari Sanggar Kamilau Intan berusaha menampilkan tari Pusara Kasih yang mana tari menjadi juara umum FKTD 2023, tapi kami tidak dihargai pada saat tampil di Hari Jadi Ke-73 Kabupaten Banjar di Alun-Alun Ratu Zalecha Martapura,” tuturnya.
Bahkan parahnya kata Ronny, para penari tampil tanpa ada satu orang pun pejabat tinggi daerah yang menyaksikan tarian tersebut.
“Bahkan di tenda itu bisa dihitung dengan jari kurang lebih 10 orang saja, ini sungguh memberikan citra yang buruk, kami diundang oleh Disbudporapar Kabupaten Banjar untuk mengisi acara Hari Jadi itu,” ucapnya.
Terlepas dari itu semua, Ronny mengatakan, jika para penari yang ada tetap berusaha terlihat profesional dan tersenyum sembari melanjutkan pertunjukan.
Ronny mengaku bingung dengan pihak protokol, MC maupun panitia yang kurang jelas seperti apa membuat rundown acara sekelas puncak harjad daerah tersebut.
“Bingung dengan rundown yang dibacakan MC, kami hanya ingin tampil dihadapan para pejabat tinggi dan tamu undangan, seperti ini sangat mengecewakan bukan dari sanggar kami saja tapi ada penampilan musik Kintung yang merupakan alat musik tradisional dan termasuk jarang dilihat juga,” jelasnya.
Ronny berharap, peristiwa seperti itu tidak terulang kembali, karena apa yang pihaknya tampilkan merupakan hal yang baik, bukan sebaliknya.
“Kami mengangkat ini untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada di Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Banjar, mudah-mudahan kedepannya tidak terulang lagi dan kesenian lebih dihargai lagi tidak dianak tirikan,” pungkasnya.