TERAS7.COM – Serbuan vaksinasi terus digencarkan oleh pemerintah, baik melalui instansi ataupun lembaga pemerintahan di seluruh Indonesia, tak terkecuali Kalimantan Selatan.
Khusus Kota Banjarbaru, Sampai saat ini sedikitnya ada 110.706 dosis vaksin digunakan ke masyarakat dengan jumlah yang sama dari total penduduk yang mencapai 253.442 orang.
Seperti diketahui, masyarakat yang ingin mendapatkan vaksin harus mendatangi pelaksaaan vaksinasi yang diadakan oleh sejumlah tempat kesehatan, dan instansti maupun lembaga pemerintah.
Lantas, mengapa pemerintah tidak melakukan vaksinasi secara door to door atau datang langsung dari rumah ke rumah agar memudahkan masyarakat yang ingin bervaksin ?
Saat dikonfirmasi perihal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru menjawab, bahwa jika dilakukan secara door to door, maka hal ini dinilai merepotkan, karena keterbatasan tenaga kesehatan yang dimiliki.
“Perlu dipahami juga, kami tenaga kesehatannya juga terbatas. Coba bayangin kalau semua door to door akan repot tenaga kesehatan kami,” ujarnya. Jumat (17/9/2021).
Lanjutnya, hal tersebut akan memakan banyak waktu, karena tenaga kesehatan harus bergerak dari satu rumah ke rumah.
“Sehari perlu berapa jam dan dapat berapa orang, agak susah juga,” ucapnya.
Lebih jauh, ia membeberkan alasan mengapa vaksinasi tidak door to door. Karena menurutnya, Banjarbaru sendiri memiliki luas wilayah yang relatif kecil jika dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan Selatan.
Seperti dilansir dari data Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Banjarbaru, wilayah Kota Banjarbaru memliki besaran luas 377,94 Km² dengan 5 Kecamatan.
Selain itu, jalan di Kota Banjarbaru menurut Rizana terbilang bagus, dan pusat kesehatan juga ditempat yang tergolong strategis, sehingga mudah diakses oleh masyarakat, termasuk untuk melakukan vaksinasi.
“Coba kita bandingkan dengan daerah yang di luar misal daerah banua enam dan sebagainya agak susah, kalo kita Alhamdulillah luasnya juga tidak terlalu luas, kondisi jalan juga bagus, alhamdulillah aksesnya mudah dijangkau,” ucapnya.
“Dan pusat kesehatan semacam puskesmas dan lainnya letaknya di tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau,” sambungnya.
Padahal, ia sendiri berharap vaksinasi dapat dilakukan di setiap RT, namun hal ini urung dilakukan karena keterbatasan tenaga kesehatan.
Selain itu, faktor pemicu lainnya seperti kekhawatiran akan rusaknya vaksin jika dilakukan dan disimpan ditempat yang terbuka, sehingga hal ini juga menjadi salah satu alasan kenapa door to door sulit dilakukan.
“Karena kalau di puskesmas, rumah sakit ada tempat penyimpanan lemari pendingin, sehingga vaksin itu aman, tapi kalau tempat terbuka kan kita bawa jalan-jalan, door to door atau tiap RT diangkut terkena matahari, kondisi panas juga. Nah takutnya rusak, jadi kan sia-sia nanti, dan juga berapa kerugian kita kalau vaksinya rusak,” jelasnya.
Kendati demikian, menurutnya tidak menutup kemungkinan jika nantinya akan dilakukan secara door to door, namun hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang memang tidak bisa menjangkau tempat pelaksaan vaksinasi.
“Ya tetapi tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang yang mungkin tidak bisa menuju ke tempat vaksinasi, mereka tentunya akan kita datangi. Misalnya orang sakit, orangnya lumpuh atau kondisi tertentu, ini akan datangi, kita juga akan melakukan ini juga ya upaya-upaya ini,” ungkapnya.
Terkait pemerataan vaksinasi, ia mengatakan pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin sesuai alokasi jumlah penduduk di tiap wilayah-wilayah yang ada di Kota Banjarbaru.
“Jadi alokasi juga menyesuaikan dengan proporsi yang ada, dengan jumlah penduduk yang ada di tiap-tiap wilayah tersebut,” tandasnya