TERAS7.COM – Sebanyak 200 siswa dari 12 sekolah di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu daging dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, sakit perut, hingga mual usai mengonsumsi makanan tersebut. Beberapa di antaranya bahkan harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas dan rumah sakit.
Kepala SPPG Tembok Dukuh, Chafi Alida Najla mengatakan, pihaknya menerima banyak laporan terkait kondisi siswa setelah menyantap menu MBG.
“Jadi saat kejadian itu berlangsung banyak laporan yang mana bahwa anak-anak itu mengeluhkan sakit perut telah memakan dagingnya gitu,” ujarnya.
Menurutnya, dalam satu paket makanan tidak hanya terdapat daging, tetapi juga nasi dan lauk pendamping lainnya sehingga kemungkinan kontaminasi masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
“Tapi memang karena di dalam ompreng itu ada daging, nasi dan sebagainya. Mungkin saat anak-anak itu makan nasi juga udah terkontaminasi seperti itu,” katanya.
Chafi menegaskan, seluruh proses pengolahan makanan di dapur telah dilakukan sesuai standar yang berlaku.
Ia juga membantah anggapan bahwa daging yang digunakan dalam menu tersebut dalam kondisi basi.
“Dagingnya nggak basi pak, mungkin dari pengolahannya mungkin, atau dari waktu bahan datangnya. Bukan dari basi, karena saat kita terima dagingnya sudah bagus. Karena memang daging itu kan bahan yang sangat riskan banget gitu pak,” jelasnya.
Selain itu, ia memastikan bumbu dan proses memasak telah mengikuti resep dan standar operasional yang ditetapkan.
“Kalau bumbunya sudah sesuai sama resep dan standard masaknya gitu,” tambahnya.
Terkait dugaan adanya rasa obat pada makanan yang dikeluhkan sejumlah siswa, pihak SPPG mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan dari Dinas Kesehatan.
“Mungkin ini kita nunggu dari hasil dari dinkes saja,” ujarnya.
Saat ini, pihak SPPG masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi dari Dinas Kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
“Jadi untuk hasil lengkapnya mungkin lebih baik menunggu hasil dari dinkes saja,” pungkasnya.