TERAS7.COM – Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Tahun 2025, Selasa (24/06/2025), di Banjarmasin.
Kegiatan ini mendorong pemanfaatan data iklim, sistem informasi, dan teknologi peramalan hama untuk menghadapi ancaman perubahan iklim dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Rakor diikuti 75 peserta dari 13 kabupaten/kota se-Kalsel, terdiri atas petugas POPT, Kepala LPHP, dan Kepala Bidang Perlindungan Tanaman.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi keharusan di tengah keterbatasan anggaran dan dinamika lapangan yang kompleks.
“Serangan OPT makin sulit diprediksi. Perlu strategi berbasis data dan teknologi agar pengendalian lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran,” ujarnya.
Kepala BPTPH Kalsel, Lestari Fatria Wahyuni, mengatakan Rakor ini menjadi ruang evaluasi dan penyusunan langkah strategis. Fokus utama adalah mendorong POPT agar siap menghadapi tantangan lapangan dengan pendekatan digital dan kolaboratif.
“Pemanfaatan sistem peramalan dan integrasi data iklim penting untuk menyusun strategi yang lebih adaptif dan akurat,” jelasnya.
Rakor juga menghadirkan narasumber dari BMKG dan Balai Wilayah Sungai (BWS) II yang membahas keterkaitan perubahan iklim dengan pola serangan OPT di Kalsel.
Dalam forum ini juga disepakati beberapa Rencana Tindak Lanjut (RTL), seperti evaluasi pengendalian OPT tahun 2024, peningkatan integrasi antarwilayah, penguatan SDM POPT, dan penyusunan strategi pengendalian berbasis data iklim dan teknologi.
Pemerintah kabupaten/kota turut berkomitmen memperkuat dukungan anggaran, sumber daya manusia (CPNS, PNS, PPPK POPT), serta pengadaan bahan pengendali OPT.
“Perlindungan tanaman harus berjalan bersama, lintas wilayah dan sektor. Tujuan kita satu: ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian di Kalimantan Selatan,” pungkas Lestari.