TERAS7.COM – Komisi II DPRD Kota Banjarbaru menerima audiensi dengan para semifinalis Nanang Galuh Kota Banjarbaru Tahun 2025 di Ruang Yaqut Baru, Gedung DPRD Kota Banjarbaru, Selasa (19/08/2025).
Pertemuan tersebut membahas peran Nanang Galuh sebagai duta pariwisata dan budaya, sekaligus peluang pemberdayaan setelah ajang tahunan ini berakhir.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Banjarbaru, Liana S.Sos mengatakan, para finalis Nanang Galuh bukan hanya ikon kompetisi, melainkan memiliki tanggung jawab moral sebagai promotor pariwisata dan budaya daerah.
“Para finalis ini kan sebagai duta, perwakilan sekaligus promotor untuk mempromosikan pariwisata dan budaya di Kota Banjarbaru,” ucapnya.
Ia menilai, audiensi kali ini menjadi kesempatan untuk mendengar langsung gagasan maupun usulan dari para semifinalis. Hal ini mencakup kemungkinan dukungan anggaran, regulasi, maupun fasilitasi agar mereka bisa lebih maksimal dalam menjalankan peran sebagai duta.

Namun, Liana juga menyoroti persoalan yang kerap muncul setiap tahun. Usai ajang Nanang Galuh selesai, para finalis maupun pemenang jarang diberdayakan kembali.
“Setelah selesai final, para peserta ini biasanya tidak diberdayakan lagi. Dulu pernah ada kerja sama dengan salah satu media cetak, mereka dimanfaatkan untuk promosi produk lokal. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” jelasnya.
Liana mencontohkan, banyak potensi lokal yang bisa dipromosikan dengan melibatkan Nanang Galuh. Seperti produk kerajinan khas Banjarbaru, mulai dari kain sasirangan hingga tas berbahan purun.
“Kenapa tidak diprogramkan saja, misalnya mereka bisa dipakai sebagai model promosi produk daerah. Jadi pemerintah kota bisa menganggarkan di satu kolom program khusus,” tambahnya.
Selain itu, Liana juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan Dekranasda untuk memanfaatkan karya busana berbahan sasirangan, tas, maupun sepatu hasil pengrajin lokal. Produk tersebut bisa dipromosikan lebih luas dengan menampilkan Nanang Galuh sebagai model.
Menurutnya, langkah ini akan menambah motivasi para finalis untuk tetap aktif mempromosikan Banjarbaru, tidak hanya saat masa kompetisi berlangsung.
“Selama ini kan hanya inisiatif pribadi saja, itu pun biasanya hanya di awal-awal. Setelah itu tidak ada yang mengarahkan. Sayang kalau potensi mereka tenggelam begitu saja,” tutur Liana.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada para semifinalis yang sudah menunjukkan dedikasi dan kreativitas dalam membawa nama Banjarbaru.
“Nanang Galuh ini sebenarnya aset besar bagi daerah. Mereka punya kemampuan komunikasi, kreativitas, dan semangat muda yang sangat potensial. Kalau diarahkan dengan baik, mereka bisa jadi motor penggerak promosi wisata, budaya, bahkan ekonomi kreatif,” ungkapnya.
Liana menilai peran Nanang Galuh tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, mereka dapat menjadi representasi wajah Banjarbaru yang modern sekaligus menjaga kearifan lokal.
“Mereka bukan hanya simbol seremonial, tapi bagian dari pembangunan daerah. Mereka bisa jadi jembatan antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya generasi muda,” tegasnya.
Ia pun berharap agar ke depan ada program berkelanjutan yang dirancang oleh pemerintah kota, sehingga Nanang Galuh bisa terus diberdayakan setelah kompetisi.
“Apalagi seleksi Nanang Galuh ini kan juga menggunakan anggaran. Jadi alangkah baiknya kalau potensi para finalis benar-benar diberdayakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan daerah,” pungkasnya.