TERAS7.COM – Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian untuk memperkuat gerakan literasi masyarakat. Pesan ini disampaikan dalam Pertemuan Pembelajaran Sebaya Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang berlangsung pada 10–13 November 2025 di The Highland Park Resort, Bogor.
Kegiatan yang menghadirkan 34 Fasilitator Daerah dan 180 Relawan Literasi Masyarakat dari seluruh Indonesia tersebut menjadi ruang berbagi praktik baik, dialog tematik bersama kementerian, serta pengembangan kapasitas relawan.
Dalam sesi dialog, Prof. Aminudin menyebutkan bahwa ia mendengar banyak kisah inspiratif dari lapangan—mulai dari pengalaman menantang hingga capaian yang memperkuat semangat para relawan. Ia menegaskan bahwa pembiasaan kerja tim merupakan fondasi utama dalam membangun gerakan literasi yang berbasis kolaborasi.
Perpustakaan Nasional juga menggandeng Kemendikdasmen, Kemendes PDTT, dan Kemendagri untuk memastikan dukungan lintas kementerian sehingga ekosistem literasi dapat berjalan berkelanjutan.
“Kami mengundang teman-teman di kementerian agar semangat yang membara ini tidak tiba-tiba melempem karena kurang perhatian,” ujarnya.
Ia menambahkan pentingnya relawan berinteraksi dengan pengelola sekolah sebagai langkah memperkuat budaya baca yang terintegrasi.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. saat sesi dialog pada pertemuan pembelajaran sebaya Relawan Literasi Masyarakat SE Indonesia yang diselenggarakan di The Highland Park Resort, Bogor. (11/11/2025). Foto: Fahrurahman
Partisipasi Enam Daerah Perwakilan Kalimantan Selatan
Enam daerah dari Kalimantan Selatan hadir dalam forum nasional ini, yakni Kabupaten Tapin, Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, Amuntai, dan Tabalong. Kehadiran mereka memperkaya diskusi lintas wilayah sekaligus menjadi bagian penting dalam penyusunan langkah strategis literasi berbasis masyarakat.
Relawan Literasi Masyarakat Lokus Kabupaten Tapin, Untung Prasyatyo Fahrurahman, menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang penguatan kapasitas yang bernilai strategis.
“Pertemuan Pembelajaran Sebaya ini memiliki nilai strategis bagi kami para relawan. Kegiatan ini bukan hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga kesempatan untuk menilai kembali efektivitas program literasi yang telah berjalan di daerah masing-masing. Melalui diskusi mendalam dan paparan praktik baik dari berbagai wilayah, kami memperoleh perspektif baru yang memperkaya cara pandang dalam merancang kegiatan literasi.” Ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa rangkaian sesi dialog dan lokakarya yang diikuti para relawan memberikan gambaran menyeluruh tentang tantangan dan peluang pengembangan literasi di berbagai daerah. Interaksi antardaerah tersebut memungkinkan para peserta mengidentifikasi pola, membandingkan pendekatan, serta menguatkan dasar pemikiran sebelum melanjutkan pada perumusan strategi lanjutan.
“Nilai utama dari forum ini adalah tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa penguatan literasi membutuhkan sinergi antarlembaga, pemetaan kebutuhan masyarakat, serta inovasi berkelanjutan. Pengetahuan dan wawasan yang kami bawa pulang dari kegiatan ini diharapkan mampu menjadi dasar dalam mengembangkan program literasi yang lebih terukur dan berdampak di Tapin.” Tambahnya.
Selain itu, dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Mahyani menegaskan bahwa pengalaman mengikuti forum nasional ini menjadi modal besar bagi relawan asal daerah.
“Senang sekali menjadi bagian dari Relawan Literasi Masyarakat. Di sini kami mendapatkan pengetahuan, relasi, dan kesempatan membandingkan program-program terbaik dari daerah lain. Pertemuan Pembelajaran Sebaya Tingkat Nasional ini menjadi momen yang tidak akan terlupakan. Banyak praktik inovatif yang dapat diaplikasikan demi kemajuan literasi di Banua kita tercinta,” ungkapnya.

Suasana Pertemuan Pembelajaran Sebaya Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang berlangsung pada 10–13 November 2025 di The Highland Park Resort, Bogor. (11/11/2025). Foto: Fahrurahman.
Keterlibatan Relima Kalimantan Selatan dalam agenda nasional ini menunjukkan komitmen kuat daerah dalam memperkuat gerakan literasi berbasis komunitas. Melalui jejaring yang semakin solid dan praktik inovatif yang dibawa pulang, literasi di Kalsel diharapkan semakin inklusif, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat.