TERAS7.COM – Persoalan kelangkaan Pertamax di sejumlah SPBU Banjarbaru terus dikeluhkan warga. Dalam beberapa minggu terakhir, pengendara mengaku kesulitan mendapatkan BBM beroktan tinggi tersebut karena sering habis di jam-jam ramai.
Menanggapi kondisi itu, Anggota Komisi II DPRD Banjarbaru, Emi Lasari, meminta Pertamina segera mengambil tindakan konkret agar pasokan kembali normal. Ia menyebut laporan warga mengenai kosongnya Pertamax sudah masuk sejak awal November.
“Sering habis. Dari kantor mau isi, di sepanjang jalur itu sudah beberapa kali tidak kebagian. Awalnya saya curiga, kok bisa sering kosong,” ujarnya, Senin (24/11/2025) petang.
Emi kemudian menghubungi pihak Pertamina untuk meminta keterangan resmi. Dalam komunikasi awal tersebut, Pertamina menyebut lonjakan permintaan menjadi penyebab utama.
“Menurut Pertamina, ini terjadi karena ada peralihan besar-besaran dari pengguna Pertalite ke Pertamax akibat isu Pertalite oplosan yang ramai diberitakan,” terangnya.
Isu tersebut memicu perpindahan konsumen dalam jumlah besar, sehingga stok Pertamax cepat menipis. Pertamina dikabarkan telah menambah suplai hingga 40–60 persen, namun Emi menilai distribusi di lapangan masih belum stabil.
Ia juga menyoroti bahwa langkah penambahan pasokan seharusnya dibarengi komunikasi publik yang jelas agar kekhawatiran warga tidak semakin meluas.
“Pertamina harus hadir menjelaskan ke publik supaya keadaan tetap kondusif. Penjelasan resmi penting agar masyarakat tidak panik atau mengambil keputusan tergesa-gesa,” tegasnya.
Emi juga mengingatkan bahwa masyarakat sudah dibebani sejumlah kewajiban, seperti pendaftaran kendaraan di MyPertamina dan pembatasan pembelian harian untuk Pertalite. Karena itu, ia menilai kalkulasi kebutuhan BBM seharusnya bisa diprediksi dengan baik.
“Ini kan harus dihitung dampaknya di masyarakat. Artinya kalau pun penambahan jumlah pengguna pertamax, harusnya sudah di kalkulasi dan memastikan pasokan mencukupi,” pikirnya.
Emi memastikan dirinya akan terus memantau situasi pasokan BBM dan melanjutkan koordinasi dengan Pertamina hingga distribusi Pertamax di Banjarbaru kembali normal.