TERAS7.COM – Budidaya ikan papuyu kini tak lagi harus mengandalkan kolam tanah yang luas. Melalui pemanfaatan kolam bundar, masyarakat bahkan dapat mengembangkan ikan khas Kalimantan tersebut hanya dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.
Inovasi tersebut mulai menunjukkan hasil setelah kelompok pembudidaya ikan di Desa Lok Baintan Luar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, melaksanakan panen perdana ikan papuyu dari sistem kolam bundar, Senin (8/6/2026).
Panen tersebut merupakan bagian dari Program Intan Sikapayu (Inovasi Tangguh Sinergi Kampung Ikan Papuyu) yang dikembangkan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar untuk memperkuat budidaya ikan lokal bernilai ekonomi tinggi.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, mengatakan kolam bundar menjadi alternatif baru dalam budidaya papuyu yang selama ini identik dengan kolam tanah.
Menurutnya, metode tersebut lebih praktis, efisien, dan dapat diterapkan masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan.
“Budidaya menggunakan kolam bundar memungkinkan masyarakat mengembangkan usaha perikanan meski hanya memiliki pekarangan rumah yang terbatas. Selain itu, biaya pembuatannya juga relatif terjangkau,” ujarnya.
Selain lebih hemat lahan, sistem kolam bundar dinilai lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem yang kerap menjadi tantangan bagi pembudidaya ikan.
Pengaturan kualitas dan volume air yang lebih mudah membuat risiko akibat banjir maupun kekeringan dapat diminimalkan dibandingkan kolam konvensional.
“Risiko akibat banjir maupun kekeringan dapat ditekan karena pengaturan air lebih terkendali. Kebutuhan airnya juga tidak sebesar kolam tanah,” jelas Bandi.
Saat ini Program Intan Sikapayu telah berkembang ke sedikitnya 10 desa di Kabupaten Banjar. Pemerintah daerah berharap inovasi tersebut dapat memperluas produksi papuyu sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pada panen perdana ini, hasil produksi diperkirakan mencapai 200 hingga 300 kilogram setelah masa pemeliharaan sekitar tujuh bulan.
“Untuk tahap awal ini hasilnya cukup baik. Proses peralihan dari kolam tanah ke kolam bundar memang memerlukan penyesuaian, baik dari sisi teknis maupun manajemen pemeliharaan,” katanya.
Dukungan terhadap pengembangan budidaya papuyu juga disampaikan Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Banjar, M. Zaini. Ia mendorong agar sebagian hasil panen dipertahankan sebagai indukan dan sumber benih guna menjamin keberlanjutan program.
Menurutnya, ketersediaan benih mandiri akan memperkuat pengembangan kampung ikan papuyu sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Sebagian hasil panen sebaiknya dipertahankan untuk kebutuhan indukan dan pembenihan. Dengan begitu, program ini bisa terus berkembang dan tidak berhenti hanya pada satu kali panen,” ujarnya.
Sementara itu, pembudidaya ikan papuyu, Aidi Rahman, mengaku sempat menghadapi tantangan akibat cuaca yang tidak menentu selama masa pemeliharaan. Namun berkat pendampingan dari DKPP Kabupaten Banjar, kendala tersebut dapat diatasi.
“Cuaca yang tidak menentu sempat menjadi kendala. Ada ikan yang terserang penyakit, tetapi berkat bantuan dan pendampingan dari dinas, penanganannya bisa dilakukan dengan baik,” tuturnya.
Keuntungan dari panen perdana tersebut rencananya akan kembali diputar untuk memperbesar usaha budidaya melalui penambahan benih dan peningkatan sarana produksi.
“Rencananya hasil panen ini akan kami putar lagi untuk pengembangan usaha dan penambahan bibit agar produksi ke depan bisa lebih meningkat,” pungkasnya.