TERAS7.COM – Ditengah terpaan isu maraknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia, dan menjelang Hari Raya Idul Adha. Wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) dipastikan masih aman dari penyebaran penyakit yang menyerang hewan ternak, termasuk sapi tersebut.
Kendati demikian, Kalsel tetap harus waspada dengan penyebaran penyakit PMK yang diketahui penularannya sangat cepat tersebut.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Provinsi Kalsel, Suparmi melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rina Savita mengatakan, saat ini pihaknya telah melakukan pencegahan dan pengetatan distribusi masuknya hewan ternak dari luar daerah, demi meminimalisir penyebaran PMK di Kalsel.

“Kita lebih mengantisipasi di perbatasan-perbatasan jalur pintu masuknya distribusi hewan ternak dari luar, bekerjasama dengan Balai Karantina, setiap akses distribusi mulai dari jalur darat maupun laut, seperti dari daerah Kalteng dan Kaltim itu ada 4 pintu masuk yang diperketat penjagaannya,” terangnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, selama ini Jawa Timur menjadi wilayah yang sering menyuplai hewan ternak ke Kalsel. Namun semejak Jawa Timur masuk menjadi wilayah tertinggi penyebaran PMK, pihaknya sementara menutup suplai hewan dari wilayah tersebut.
“Sementara kita tidak memasukkan hewan ternak dari Jawa Timur karena adanya wabah PMK yang merebak disana,” ungkapnya.
Lanjut Rina, PMK sangat cepat menular, sehingga pihaknya masif melakukan survey dan monitoring ke kandang milik peternak guna mencegah penyebaran, dan sekaligus memberikan sosialisasi kepada peternak agar menjaga kebersihan kandang mereka.
“Yang kita lakukan pengecekan ke kandang-kandang, mengecek keadaan hewan ternak, dan sosialisasi agar para peternak melakukan penyemprotan desinfektan, menjaga kesehatan hewan ternak, dan menjaga akses lalu lintas keluar masuk kandang hewan,” ungkapnya.
Untuk hewan ternak yang terjangkit PMK, khususnya Sapi, Rina mengatakan bahwa dagingnya masih diperbolehkan dikonsumsi, dengan catatan saat setelah dipotong, daging harus segera dilakukan perebusan.
Sedangkan, untuk bagian kepala, kaki dan jeroan sapi yang terkena penyakit PMK, dikatakan Rina, tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.
Menyikapi hal ini, Fahri salah seorang masyarakat mengatakan, pencegahan dan sosialisasi menyangkut PMK sangat penting dilakukan.
Sebab menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan hewan ternak seperti sapi dan kambing menurutnya akan melonjak, oleh karena itu hal tersebut sangatlah penting.
“Penting sekali melakukan pencegahan untuk menghindari penyakit ini, karena kita tahu sendiri, kalau menjelang Idul Adha permintaan hewan ternak seperti sapi dan kambing pasti banyak,” ucapnya.
Gejala penyakit PMK pada setiap jenis hewan bervariasi, namun secara umum, penyakit ini menunjukkan gejala seperti demam tinggi mencapai 39°C selama beberapa hari, tidak mau makan dan terjadi luka atau lepuh pada daerah mulut, termasuk lidah, gusi, pipi bagian dalam dan bibir, dan keempat kakinya pada tumit, celah kuku dan sepanjang coronary bands kuku atau batas kuku dengan kulit.
Sementara untuk masa inkubasi penyakit PMK dari waktu masuknya virus sampai timbul gejala berkisar antara 2-8 hari.