TERAS7.COM – Musim kemarau yang diiringi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data hingga pertengahan Juli 2026, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalsel mengalami kenaikan sekitar 20 persen.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, dr H Diauddin mengatakan, peningkatan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah sehingga langkah antisipasi telah dilakukan dengan memperkuat kewaspadaan di seluruh kabupaten dan kota.
“Untuk kondisi saat ini, kami sudah membuat surat kewaspadaan kesehatan kepada seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota terkait peningkatan kasus ISPA,” ujarnya di sela-sela kegiatan Bincang Santai Persiapan Hari Jadi ke-76 Kalsel di Banjarmasin, Selasa (04/08/2026).
Selain mengirimkan surat kewaspadaan, Dinkes Kalsel juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus ISPA di berbagai daerah.
Upaya pencegahan juga turut difokuskan pada kelompok rentan, terutama anak-anak sekolah, melalui edukasi dan imbauan agar mengurangi risiko paparan kabut asap.
“Kami juga menyiapkan pelayanan bagi kelompok rentan dan memberikan imbauan ke sekolah-sekolah. Biasanya masyarakat banyak beraktivitas pada pagi hari, seperti mengantar anak sekolah, sementara kabut asap juga cenderung lebih pekat pada waktu tersebut,” katanya.
Maka dari itu, Dinkes Kalsel mengimbau masyarakat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi hari ketika kabut asap mulai terasa menyengat.
Lebih lanjut, dr Diauddin memastikan, hingga saat ini tidak ada laporan kematian akibat ISPA meski jumlah kasusnya di Kalsel mengalami peningkatan.
“ISPA pada umumnya tidak membahayakan, tetapi cukup mengganggu aktivitas,” jelasnya.
Adapun untuk penanganannya, menurut dr Diauddin, sebagian besar kasus ISPA dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas.
“Karena ISPA termasuk penyakit dengan gejala yang relatif ringan, penanganannya cukup di pelayanan tingkat pertama. Berbeda dengan penyakit seperti demam berdarah yang memerlukan penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.