TERAS7.COM – Tim SAR menyiapkan opsi lain untuk mencari korban yang diperkirakan masih berada di dalam kapal Virgo Transport 8 apabila operasi pencarian bawah laut belum dapat dilakukan.
Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan yakni tindakan salvage terhadap kapal, termasuk kemungkinan membalikkan posisi kapal atau melakukan penarikan agar pencarian terhadap korban di dalam badan kapal dapat dilakukan.
Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengatakan opsi tersebut masih dalam tahap perencanaan dan harus melalui perhitungan teknis serta pertimbangan keselamatan.
“Kalau operasi underwater tidak bisa dilaksanakan, kita akan melibatkan pihak yang memiliki kemampuan untuk menghitung tindakan salvage, termasuk kemungkinan membalikkan atau menarik kapal,” kata Mohammad Syafii dalam keterangan pers di Posko Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Selasa (15/09/2026) malam.
Menurutnya, tindakan terhadap kapal tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena kondisi kapal yang masih berada di lokasi juga memiliki risiko bagi personel.
Kapal Virgo Transport 8 diketahui masih berada di lokasi kejadian dengan sebagian badan kapal masih terlihat di atas permukaan air.
Syafii menjelaskan, ruang kosong yang masih terdapat di dalam badan kapal menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan apabila dilakukan tindakan terhadap kapal.
“Sesuatu yang mengapung bukan berarti aman. Masih ada ruang-ruang kosong di dalam kapal yang harus diperhitungkan karena perubahan tekanan bisa membahayakan,” ujarnya.
Karena itu, tim SAR harus melihat kondisi secara menyeluruh sebelum menentukan tindakan, mulai dari kondisi cuaca, keadaan kapal di permukaan hingga situasi di bawah air.
“Semua itu menjadi pertimbangan-pertimbangan sebelum kita menentukan langkah,” katanya.
Apabila kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan penyelaman, koordinasi dengan unsur yang memiliki kemampuan salvage akan dimaksimalkan untuk menentukan alternatif penanganan kapal.
Syafii menyebut, opsi membalikkan maupun menarik kapal bukan keputusan yang dilakukan tanpa dasar. Setiap tindakan harus memiliki perhitungan teknis dan tetap mengutamakan keselamatan operasi.
“Kita mau membalikkan kapal maupun melakukan penarikan tentu memiliki dasar. Semua langkah harus diperhitungkan dan mengacu pada aspek keselamatan,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan untuk membuka kemungkinan pencarian terhadap korban yang masih diperkirakan berada di dalam badan kapal.
Setelah proses pencarian dan penanganan kapal dilakukan, tahapan selanjutnya akan berkaitan dengan proses investigasi kecelakaan yang dipimpin Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Nanti kita akan serahkan kepada tim-tim investigasi yang dipimpin oleh Kepala KNKT,” pungkasnya.