TERAS7.COM – Wakil Bupati Tapin, Juanda, menyampaikan kebanggaannya atas ditetapkannya Geopark Meratus sebagai UNESCO Global Geopark. Menurutnya, pengakuan internasional tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah besar untuk menjaga kelestarian warisan geologi, alam, dan budaya yang dimiliki masyarakat Tapin dan Kalimantan Selatan.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan kita bisa melestarikan kebudayaan itu sehingga dapat diwariskan kepada anak cucu kita nanti,” ujar Juanda, menegaskan pentingnya merawat situs geologi serta tradisi lokal seperti dandang.
Geopark Meratus — Warisan Alam & Budaya Dunia
Status UNESCO Global Geopark untuk Geopark Meratus disahkan pada sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-221 di Paris pada April 2025. Pengakuan ini menegaskan keunikan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang terdapat di kawasan Pegunungan Meratus.
Dengan luas sekitar 346.500 hektare, Geopark Meratus menyimpan warisan geologi kuno — termasuk ofiolit tertua di Indonesia dan kandungan intan — serta menjadi habitat flora dan fauna khas seperti anggrek bulan dan primata endemik.
Selain itu, geopark ini juga memuat kebudayaan lokal, mulai dari tradisi Dayak dan Banjar, rumah adat, kerajinan, hingga tradisi dandang.
“Pengakuan ini adalah bukti bahwa Meratus memiliki nilai dunia. Tugas kita adalah memastikan seluruh kekayaan geologi dan budaya itu tidak hilang, melainkan kita jaga, rawat, dan kenalkan ke generasi berikutnya.” ujarnya
Komitmen Tapin di Forum Nasional
Keikutsertaan Wakil Bupati Tapin, H. Juanda, dalam Indonesia’s Geopark Leader Forum 2025 di Jakarta pada 3 Desember 2025 menjadi bentuk keseriusan Pemkab Tapin dalam mendukung pengembangan geopark secara berkelanjutan.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemimpin daerah, pengelola geopark, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan.Pemerintah pusat melalui Bappenas menekankan bahwa geopark harus menjadi “platform geowisata berkelanjutan” — bukan hanya objek wisata, tetapi juga laboratorium alam, sarana edukasi, serta wadah pemberdayaan masyarakat lokal.
“Kami hadir dalam forum ini untuk belajar dan membangun kerja sama. Tapin ingin memastikan bahwa situs seperti Batu Hapu dan tradisi dandang benar-benar dikelola dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat.” tegas Juanda.
Tantangan & Harapan ke Depan
Meski pengakuan UNESCO telah diraih, Pemkab Tapin menilai bahwa tugas besar justru baru mulai. Pelestarian situs alam dan budaya membutuhkan dukungan masyarakat, pengelolaan profesional, dan kebijakan yang konsisten.
Tapin berharap Geopark Meratus dapat menjadi aset masa depan melalui upaya melestarikan tradisi lokal, mengembangkan pariwisata berbasis alam dan budaya yang bertanggung jawab, serta mendorong ekonomi lokal tanpa merusak lingkungan.
“Penghargaan ini bukan akhir, tapi awal perjalanan. Kesuksesan geopark hanya terwujud jika pemerintah, masyarakat, dan para budayawan bergerak bersama menjaga alam dan budaya kita.” Pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan komitmen menjaga warisan daerah, Pemkab Tapin optimistis bahwa Geopark Meratus akan menjadi kebanggaan bersama sekaligus modal berharga dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Juanda berharap pengakuan UNESCO ini menjadi pemicu untuk memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam di Kabupaten Tapin.