TERAS7.COM – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Rantau tak hanya diisi dengan aktivitas rutin harian. Ada yang berbeda dan terasa lebih syahdu—yakni kegiatan pengajian dan pembacaan Surat Yasin yang melibatkan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan para petugas rutan, (15/5/25).
Bertempat di Masjid Al Hidayah Rutan Rantau suasana religius begitu terasa sejak selepas sholat Magrib berjamaah.
Para WBP yang mewakili tiap kamar hunian duduk rapi bersama para petugas, membaca ayat-ayat suci dan mengikuti kajian singkat yang penuh makna. Tanpa sekat, tanpa jarak, semuanya larut dalam momen kebersamaan yang jarang terlihat di tempat lain.
Pengajian ini bukan agenda dadakan, kegiatan ini sudah menjadi rutinitas Rutan Rantau sebagai bagian dari program pembinaan kerohanian.
Melalui pendekatan spiritual seperti ini, diharapkan WBP bisa lebih tenang menjalani masa pidana, serta menumbuhkan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
Pelaksana Tugas Kepala Rutan Kelas IIB Rantau, Rahmad Pijati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya serius Rutan dalam pembinaan mental dan spiritual para WBP dan juga petugas.
“Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tapi wujud nyata perhatian kami terhadap pembinaan akhlak dan mental. Bukan cuma buat warga binaan, tapi juga bagi kami sebagai petugas,” ucap Pijati.
Ia menambahkan bahwa dengan kegiatan seperti ini, relasi antara petugas dan warga binaan menjadi lebih cair, hangat, dan penuh rasa saling menghargai. Hal ini tentunya berkontribusi positif dalam menciptakan suasana rutan yang lebih kondusif, damai, dan manusiawi.
Suasana khusyuk dan kekeluargaan pun jadi pemandangan yang akrab dalam pengajian tersebut. Tidak sedikit dari peserta yang tampak larut dalam doa dan perenungan.
Bagi sebagian WBP, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, merenungkan kesalahan, dan memupuk semangat perubahan diri.
Rutan Rantau sendiri berkomitmen untuk terus menjalankan berbagai program pembinaan positif, mulai dari pelatihan keterampilan, pendidikan, hingga pembinaan spiritual seperti ini. Semua itu ditujukan agar para WBP tidak hanya dihukum, tapi juga diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Dengan pendekatan yang manusiawi dan menyentuh sisi keagamaan, Rutan Kelas IIB Rantau membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar soal pembatasan kebebasan, tapi juga soal harapan, perubahan, dan kemanusiaan.