TERAS7.COM – Pemerintah Kabupaten Banjar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dengan puncaknya pada Juli hingga September.
Langkah tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H Yudi Andrea, saat membuka Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Rakor PB Karhutla) di Aula Kantor DPRKPLH Martapura, Kamis (25/6/2026).
Menurut Yudi, rapat koordinasi digelar sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur Kalimantan Selatan untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman karhutla selama musim kemarau.
“Langkah antisipasi dini ini sangat penting karena BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini akan lebih kering, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli hingga September,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banjar menempatkan upaya pencegahan sebagai prioritas utama dengan melibatkan seluruh unsur pemerintah, TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah juga meminta camat, lurah, dan kepala desa untuk terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
“Pemerintah daerah juga meminta para camat, lurah hingga kepala desa untuk terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Penegakan hukum secara profesional juga akan dilakukan terhadap pelanggar yang memicu terjadinya kebakaran,” tegasnya.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar, sepanjang 2025 terjadi 61 kasus karhutla yang menghanguskan lebih dari 189 hektare lahan. Sementara hingga Juli 2026 telah tercatat lima kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 39,8 hektare, serta terdeteksi 20 titik panas (hotspot).
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan seluruh personel, peralatan, dan sumber daya dari instansi terkait telah disiagakan untuk menghadapi potensi karhutla.
Pemerintah daerah juga berencana mengaktifkan tiga posko strategis setelah Posko Utama di BPBD diaktifkan, yakni Posko Martapura Barat dan Posko Cintapuri Darussalam, guna mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Selain mengantisipasi karhutla, BPBD Banjar juga terus menangani dampak musim kemarau berupa kekeringan dan krisis air bersih melalui penyaluran bantuan air ke sejumlah wilayah terdampak.