TERAS7.COM – Ikan Lele merupakan salah satu sumber protein hewani yang konsumsinya dari tahun ke tahun terus meningkat sehingga permintaannya cukup tinggi.
Ikan Lele sendiri diketahui memiliki komposisi gizi yang cukup baik untuk kebutuhan konsumsi harian, meliputi kandungan protein sebesar 17,7 persen, lemak 4,8 persen, mineral 1,2 persen dan air 76 persen.
Selain itu Ikan Lele sendiri relatif lebih mudah dibudidayakan dengan modal yang relatif rendah dan perawatan yang tidak rumit sehingga punya nilai ekonomis yang tinggi.
Hal ini diungkapkan Kabid Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Banjar, M. Syahid saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (12/3/2021).

“Ternak lele sendiri lebih simpel, misalnya tak perlu aerator atau air mengalir seperti ikan lain, karena bisa hidup di air dengan kadar oksigen rendah. Bahkan bisa dipelihara di ember seperti di teknik Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber). Cuma untuk mengerjakannya harus rutin dan telaten, jangan cepat putus asa,” ujarnya.
Dengan kemampuan dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas, juga budidaya yang relatif mudah dikuasai masyarakat, budidaya ikan lele menjadi primadona dalam budidaya ikan air tawar
Ternak lele sendiri banyak dilakukan mulai dari kolam tanah, kolam terpal, kolam semen, kolam fiberglass, sedangkan teknologi budidayanya juga berkembang pesat dari skala tradisional, semi intensif, intensif hingga sistem bioflok.
Sayangnya konsumsi Ikan Lele di masyarakat Banjar sendiri masih belum terlalu umum karena pandangan negatif pada zaman lampau, dimana ikan lele masih dianggap suka mengkonsumsi kotoran manusia.
“Ikan lele atau di masyarakat Banjar disebut Ikan Bintit masih dipandang negatif, sehingga konsumsinya tidak banyak seperti ikan haruan atau ikan papuyu. Justru ikan lele lebih banyak disukai oleh pendatang seperti orang Jawa. Akan tetapi dengan banyaknya pendatang, konsumsi ikan lele mulai meningkat terutama dengan menjamurnya warung-warung seafood,” ungkap Syahid.
Ikan Lele sendiri diketahui memiliki cita rasa dan tekstur yang lembut, akan tetapi di warung seafood ikan lele diolah dengan digoreng kering hingga renyah dan garing serta gurih.

“Namun tak semua ikan lele budidaya diserap ke warung seafood, karena mereka punya standar sendiri dimana 1 ikan lele cukup untuk 1 piring porsi. Dalam standar mereka, 1 kg sama dengan 4, 5 atau 6 ekor ikan lele. Kalau 1 kg sama dengan 3 ekor lele, itu terlalu besar, jadi tak terlalu rugi saat berjualan,” terangnya.
Prospek bisnis ternak lele sendiri masih cukup besar di Kabupaten Banjar karena hasil budidaya dapat diserap konsumen, utamanya pada warung seafood.
“Untuk konsumsi rumah tangga sendiri, stok ikan lele di pasar selalu tersedia, walaupun tidak sebesar ikan tawar lain seperti nila dan sebagainya,” jelas Syahid.
Dirangkum dari berbagai sumber, untuk melakukan budidaya ikan lele pada dasarnya cukup mudah dan terbagi atas 3 bagian, yakni persiapan media air, penebaran benih dan masa budidaya.
Untuk tahap pertama, perlu disediakan media air berupa kolam budidaya, baik menggunakan kolam tanah, kolam terpal, kolam semen, kolam fiberglass bahkan ember.
Untuk benih ikan lele, tinggi air yang mengisi media budidaya disarankan setinggi kira-kira 30 cm, tujuannya agar benih ikan lele nantinya mudah untuk mencapai permukaan saat makan.
Kemudian menebarkan benih ikan lele ke media budidaya, yang mana gunakan benih lele yang sehat dengan ciri-ciri yakni gerakannya lincah, tidak ada cacat atau luka di tubuh, bebas dari bibit penyakit dan gerakan renang normal.
Karena ikan lele merupakan jenis ikan kanibal atau suka memakan sesama jenis, untuk menghindari risiko kematian pada ikan lele maka perlu dipisahkan ikan lele yang berukuran besar dengan ikan lele yang berukuran kecil sehingga ikan lele tidak akan memakan saling memakan satu sama lain.
Penebaran benih sendiri baiknya dilakukan pada pagi atau sore hari karena waktu tersebut ikan lele cenderung lebih tenang, kemudian puasakan benih ikan lele selama 24 jam atau hingga benih lele terlihat lincah agar benih bisa beradaptasin dengan lingkungan baru.
Pada masa budidaya, ikan lele harus disortir setiap umur 15-20 hari, 30-35 hari, dan 60-65 hari dengan tujuan untuk mencapai produksi maksimal, mencegah kanibalisme, mengontrol perkembangan bobot ikan, menjaga agar perolehan pakan seimbang dan menyeragamkan ukuran lele.
Ikan lele sendiri diberi makan dengan berbagai jenis pelet yang dijual dipasaran umumnya harus memperhatikan kualitas dan kuantitas pakan yang akan diberikan pada ikan, dimana setiap ikan lele sendiri tiap hari perlu pakan 3-6 persen dari bobot tubuhnya.
Pemberian pakan sendiri dilakukan sebanyak 4-5 kali sehari dengan waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, sore, atau malam hari, akan tetapi karena lele merupakan hewan nokturnal, maka disarankan untuk memberi pakan lebih banyak di sore atau malam hari.
Pemberian pakan tidak boleh berlebihan, karena akan mengakibatkan sisa pakan akan menjadi bahan beracun dan akan merusak kulitas air serta akan mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan pakan.
Ikan lele juga bisa diberikan pakan alternatif seperti Magot, Azzola, Ikan Rucah, Keong Mas dan Tepung ikan.
Pergantian air sendiri dilakukan apabila nafsu makan ikan turun, ikan mulai menggantung, air bau dan kualitas air turun, dimana waktu penggantian ikan dapat dilakukan pada pagi atau sore hari sebanyak 30 – 50 persen dan setelah itu sebaiknya ikan dipuasakan terlebih dahulu selama 1 hari.
Ikan lele biasanya sudah dapat dipanen setelah 3 bulan semenjak benih lele disebar, dimana proses panen dapat dapat dilakukan dengan menyortir ikan yang layak dikonsumsi atau telah memiliki ukuran 4-7 ekor per kilogram atau sesuai dengan keinginan pembeli.
Sebelum menebar benih baru, ada baiknya kolam harus dibersihkan untuk mengurangi kotoran atau sisa makanan ikan lele sebelumnya, serta dapat mengetahui apakah masih ada ikan lele yang tertinggal sebelum menebar benih baru, karena benih lele baru akan habis di makan ikan lele yang siap panen tersebut.