TERAS7.COM – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) terus mendorong mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu secara nyata melalui Program Bina Desa Berdampak. Salah satu implementasinya diwujudkan melalui program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Pesisir melalui Transplantasi Karang dan Pengelolaan Sampah Plastik berbasis Ecobrick” yang dilaksanakan oleh mahasiswa lintas fakultas di Desa Sungai Dua Laut, Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu.
Program ini dilaksanakan pada 7–8 Januari 2026 oleh tim yang terdiri atas 15 mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Teknik, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dengan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Nursalam, S.Kel., M.S.
Ketua Kelompok, Disma Peranita, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari kondisi lingkungan pesisir desa yang memiliki potensi sumber daya laut yang besar namun menghadapi permasalahan kerusakan terumbu karang dan penumpukan sampah plastik.
“Kami melihat potensi laut di desa ini sangat bagus, tetapi ada kerusakan karang dan banyak sampah plastik. Jika lingkungan laut tidak dijaga, biota laut juga akan terdampak. Karena itu, kami ingin membantu memperbaiki ekosistem laut melalui transplantasi karang dan mengurangi sampah plastik melalui ecobrick,” ujarnya.
Sebelum merancang kegiatan, tim mahasiswa terlebih dahulu melakukan survei lapangan pada 10 Desember 2025, melakukan observasi kondisi pesisir, serta berdiskusi dengan perangkat desa dan warga setempat.
“Program yang kami susun benar-benar berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dari hasil observasi dan diskusi, rehabilitasi terumbu karang dan pengelolaan sampah plastik memang menjadi kebutuhan utama,” jelas Disma.
Namun, tim juga mencatat bahwa penerapan program ecobrick menghadapi tantangan karena sebagian besar ibu rumah tangga di desa tersebut turut bekerja, sehingga waktu luang untuk mengolah sampah menjadi ecobrick terbatas.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan edukasi tentang pentingnya terumbu karang, pemasangan media tanam, serta penanaman bibit karang menggunakan metode blok bata. Selain itu, dilakukan sosialisasi dan pelatihan pembuatan ecobrick, mulai dari pemilahan sampah plastik hingga pemanfaatan ecobrick sebagai produk fungsional seperti bangku dan pot tanaman.
“Ilmu yang kami pelajari di kampus seperti manajemen lingkungan, perencanaan program, kerja tim, dan komunikasi dengan masyarakat benar-benar terpakai di sini. Ini bukan hanya teori, tapi praktik langsung di lapangan,” tambahnya.
Selama kegiatan, mahasiswa menginap di desa untuk mengefisienkan waktu dan anggaran mengingat jarak tempuh yang mencapai 5–6 jam dari kampus ULM.
Disma menyampaikan bahwa respons masyarakat terhadap program ini tergolong cukup baik meskipun partisipasi masih terbatas. Para nelayan dan pemuda desa terlibat dalam kegiatan transplantasi karang, sementara ibu-ibu dan anak-anak mengikuti pelatihan ecobrick.
Pada pelaksanaannya, program transplantasi karang sempat menemui kendala, yakni penentuan titik lokasi yang tepat untuk rehabilitasi terumbu karang. Namun, kendala tersebut dapat diatasi dengan bantuan nelayan setempat yang memahami kondisi perairan desa.
Dari sisi mahasiswa, program ini memberikan pengalaman pembelajaran kontekstual serta penguatan soft skills seperti komunikasi, adaptasi sosial, dan pemecahan masalah.
Sementara itu, dari sisi masyarakat, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran dalam menjaga ekosistem laut dan mengelola sampah secara berkelanjutan.
“Kami berharap titik transplantasi karang ini bisa terus dijaga dan berkembang. Kami juga berencana melakukan monitoring perkembangan karang, meskipun masih terkendala waktu dan biaya, kami tetap menjalin komunikasi dengan pihak desa untuk memantau perkembangan,” ungkap Disma.
Program Bina Desa ULM Berdampak ini menjadi wujud komitmen Universitas Lambung Mangkurat dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman nyata serta kontribusi langsung mahasiswa dalam pembangunan masyarakat. ULM mendorong keberlanjutan program melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dan masyarakat agar dampak kegiatan tidak berhenti pada satu periode pelaksanaan, melainkan terus berkembang sebagai model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis pendidikan tinggi.