Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Mengenal Musik Kintung, Seni Musik Tradisional Khas Suku Banjar
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Mengenal Musik Kintung, Seni Musik Tradisional Khas Suku Banjar

Rizki Saputera
Rizki Saputera 9 Maret 2022, 19.21
Share
WhatsApp Image 2022 03 08 at 13.45.05 2
Musik kintung adalah salah satu jenis musik tradisional khas Suku Banjar di masa lalu yang digelar saat terjadi musim kemarau, dimana dipercaya musik ini dapat menyeru kodok agar berbunyi bersahut-sahutan sehingga turun hujan. Foto : Rizki
SHARE

TERAS7.COM – Ada yang unik dari pegelaran pasar murah yang digelar oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Banjar bersama dengan Asosiasi Pengusaha Jasa Boga (APJI) Kabupaten Banjar pada Selasa (8/3/2022) kemarin.

Selain diramaikan dengan penjualan minyak goreng yang diserbu warga, juga ada pegelaran seni yang unik dan langka.

WhatsApp Image 2022 03 08 at 13.45.56
Alat musik Kintung sendiri terbuat dari bambu kering bagus dan tebal, serta bantalan dari kayu untuk tempat memukul alat musik tersebut. Jumlah alat musik ini sendiri terdiri atas 7 alat musik yang masing-masing memiliki 7 nada yang berbeda. Foto : Rizki

Ditengah pembukaan pasar murah tersebut, pengunjung bisa mendengarkan pegelaran musik khas dari Suku Banjar di masa lalu.

Adalah musik Kintung, musik peninggalan masa lalu ini dari alat berbahan bambu ini berbunyi cukup merdu menghibur pengunjung.

Alunan musik kintung yang cukup langka ini sendiri dibawakan oleh Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman Desa Muara Bincau, Martapura.

Baca juga :

Lomba Japin Carita tingkat Pelajar se-Kalsel Rebutkan Total Hadiah Rp 15 Juta, Berikut Cara Pendaftarannya

100 Orang Baayun Maulid Budaya Masyarakat Banjar

Lestarikan Kebudayaan Banua, DPRD Kalsel Ingin Ada di TMII

Perwakilan Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman Gusti Jadri mengungkapkan kesenian musik tradisional Banjar yang cukup langka ini merupakan budaya petani Banjar di masa lalu.

WhatsApp Image 2022 03 08 at 13.45.04
Perwakilan Kelompok Musik Kintung Ar-Rahman Gusti Jadri mengungkapkan di zaman dulu, seni musik ini kerap kali dipertandingkan antar kampung. Foto : Rizki

“Ini kesenian musik tradisional yang dimainkan petani, biasanya dilakukan di musim kemarau ketika hujan tak turun sama sekali,” ujarnya.

Gustri Jadri menambahkan pegelaran musik ini biasanya digelar pada malam hari usai shalat isya.

“Jadi dulu ada kepercayaan dengan pergelaran musik ini, harapannya dengan adanya musik ini bisa menyeru agar kodok bisa berbunyi bersahut-sahutan dan dipercaya akan membuat hujan turun,” katanya.

Karena tanda alam hujan akan turun adalah bunyi kodok yang bersahutan, hal inilah yang mendasari kepercayaan tersebut.

Alat musik kintung sendiri lanjut Gusti Jadri terdiri atas 7 alat musik dari bambu kering bagus dan tebal yang masing-masing memiliki 7 nada yang berbeda dan bantalan dari kayu untuk tempat memukul alat musik tersebut.

7 jenis alat musik kintung tersebut punya nama masing-masing, yakni Hintalu Randah, Hintalu Tinggi, Tinti Pajak, Tinti Gorok, Pindua Randah, Pindua Tinggi dan Gorok Tuha.

Tradisi musik yang dilaksanakan saat musim kemarau ini sendiri lanjut Gustri Jadri pada zaman dahulu sempat diperlombakan.

“Dulu zaman Bupati Budigawis, dulu sering diperlombakan antar kampung dan berhadiah. Yang dipertandingan dulu adalah keserasian dalam menggerakkan alat musiknya, kalau sekarang tidak pernah lagi,” terangnya.

Dikutip dari situs resmi Disbudpar Kabupaten Banjar, Musik Kintung merupakan salah satu kesenian musik tradisional dari Suku Banjar yang berasal dari daerah Kabupaten Banjar, yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan Bincau, Martapura.

Musik Kintung sendiri termasuk alat musik pentatonis, tapi boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar

Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan, tapi bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

Bahan untuk membuat alat musik kintung ini adalah bambu yang bentuknya mirip seperti angklung dari Jawa Barat.

Biasanya bambu yang digunakan untuk membuat alat musik ini tidak sembarang bambu artinya harus dipilih secara cermat terutama yang dapat mengeluarkan bunyi yang bagus dan juga tidak mudah pecah..

Untuk mengatur bunyi tergantung pada rautan bagian atasnya hingga melebihi dari seperdua lingkaran bambu, dimana rautan itu makin ke atas semakin mengecil sebagai pegangannya, sedang bagian bawahnya tetap seperti biasa.

Panjangnya biasanya dua ruas dan buku yang ada di bagian tengahnya (dalam) dibuang agar menghasilkan bunyi.

Pengaturan bunyi biasanya tergantung pada rautan bagian atasnya, dimana semakin dibuang atasnya itu akan menimbulkan nada yang lebih tinggi.

Pada perkembangannya musik Kintung merupakan musik yang bersifat instrumentalia ini dan dapat mengiringi lagu atau nyanyian Banjar umumnya yang berjenis lagu-lagu tirik dan japin, dimana agar lebih harmonisasinya biasanya ditambah dengan babun (gendang) dan gong atau alat musik lainnya yang diperlukan.

Namun, pada masa sekarang, musik Kintung ini sudah mulai langka karena seniman yang tersisa adalah orang-orang tua dan jarang generasi muda yang mau meneruskan kesenian ini.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love1
Cry1
Sad0
Happy1
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48
download 5
Tak Patuhi Ketentuan, Sejumlah Warung Kopi di Kertak Hanyar dan Mali-Mali Diberi SP1
4 Agustus 2026, 09.15
IMG 20260806 191642
Supian HK Pastikan DPRD Cari Solusi Atasi Gejolak Perunggasan di Banua
6 Agustus 2026, 19.19
DJI 20260806093249 0177 Dbjbtv
Bye-Bye Macet! Wali Kota Lisa Percepat Pembangunan Jalan Lingkar Selatan Banjarbaru
7 Agustus 2026, 22.15

You Might Also Like

Lomba Japin Carita tingkat Pelajar se-Kalsel Rebutkan Total Hadiah Rp 15 Juta, Berikut Cara Pendaftarannya

100 Orang Baayun Maulid Budaya Masyarakat Banjar

Lestarikan Kebudayaan Banua, DPRD Kalsel Ingin Ada di TMII

Lestarikan Tata Rias Adat Banjar, HARPI Banjar Gelar Lomba Merias

Murdjani, ‘Banjar Vs Dayak’?

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?