TERAS7.COM – Pemilih milenial dalam pemilu serentak tahun 2019 menurut Daftar Pemilih Tetap (DPT) berjumlah lebih dari 30% dari total 152 juta pemilih, tentu saja suara pemilih milenial ini menyumbang suara yang cukup besar.
Pada hari ini, rabu (17/4) pemilu serentak tahun 2019 telah dilaksanakan dan antusiasme masyarakat untuk menyalurkan suaranya cukup tinggi, diantaranya generasi milenial yang mayoritas merupakan pemilih pemula.
Untuk mengetahui suara generasi milenial, Teras7.com menghimpun suara 7 orang pemilih pemula dari beberapa TPS yang tersebar di Kabupaten Banjar yang sudah menyalurkan hak pilihnya hari ini dan bersedia berbagi kisahnya.
1. Sugianor

Sugianor (18) pemilih milenial yang berdomisili di Jalan Pangeran Suryanata, Desa Kiram ini mencoblos di TPS 1 Desa Kiram mengatakan pemilu kali ini merupakan pemilu pertama yang diikutinya.
“Perasaan saya tidak karuan saat mengikuti pemilu kali ini. Ada perasaan gugup sekaligus senang karena sudah tidak sabar ingin segera mencoblos,” ujarnya.
Ia tidak memiliki bayangan sama sekali bagaimana jalannya pencoblosan, akan tetapi setelah mendengarkan pembicaraan orang-orang disekitarnya ia dapat membayangkan bagaimana pelaksanaan pemilu.
Dalam pemilu kali ini, Sugiannor menjatuhkan pilihan pada pasangan Capres-Cawapres Nomor 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.
“Saya yakin dengan pilihan saya, karena saya tahu siapa yang harus saya pilih dan saya merasa beliau jadi presiden kembali, otomatis indonesia akan maju. Ini pilihan pribadi saya, tidak ikut orang,” terangnya.
Ia juga menganggap Jokowi selama menjadi presiden sudah melaksanakan tugas dengan baik dan jujur sehingga ia turut serta merasakan perubahan indonesia selama ini.
2. Ahmad Nasrullah

Salah satu pemilih milenial yang menjadi Wakil II Nanang Banjar 2018, Ahmad Nasrullah (19) mengungkapkan, di pemilu pertamanya ini, selain menjadi pemilih ia juga menjadi saksi bagi salah seorang caleg.
“Ini pemilu pertama sekaligus sebagai saksi, jadi masih lumayan bingung. Selain itu juga saya tidak mendapatkan banyak akses untuk mengenal caleg dan capres-cawapres selain melalui media mainstream. Jadi masih sulit mencari informasi mengenai caleg yang ingin dipilih,” cerita pemilih yang beralamat di Jl. Irigasi Komp Pesona Bincau.
Saat mencoblos sendiri ujar Ahmad Nasrullah, ia mengalami sedikit kendala, akan tetapi dengan bantuan dari petugas TPS.
“Alhamdulillah untuk mencoblos lumayan mudah karena saya mendapatkan arahan dari panitia. Kendala yang terjadi antara lain pembukaan TPS yang masih molor dari jadwal,” kata pemilih yang bekerja sebagai Staf Akuntansi di salah satu Travel di Banjarbaru.
3. Dini Rahman

Dini Rahman (19) yang lahir di Desa Simpang Lima, Kecamatan Cintapuri Darussalam mengungkapkan ini juga menjadi pemilu perdana yang diikutinya.
“Saya sendiri masih sedikit bingung karena ini pertama kalinya ikut. Lumayan susah untuk memilih karena tidak terlalu mengetahui partai yang berkompetisi, apalagi calegnya,” ujar Dini Rahman.
Walaupun bingung memilih, ia sudah menentukan pilihan dalam pemilu kali ini, sebagian ada yang pilihannya sendiri dan mengikuti pilihan orang lain.
“Saya hanya berharap semoga orang-orang yang terpilih pada pemilu tahun ini bisa menjadikan indonesia lebih maju dan masyarakatnya sejahtera, siapapun pemimpinnya. Semoga masyarakat bisa menerimanya dan jangan sampai kita terpecah belah hanya karena beda pilihan,” harapnya.
4. Muhammad Arief

Sebagaimana mayoritas generasi milenial, Muhammad Arief (19), salah satu bekerja sebagai Staf Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian Kabupaten Banjar mengatakan ini merupakan pemilu pertama yang diikutinya.
“Saya sangat antusias karena ini pemilu pertama saya. Apalagi ini merupakan pesta rakyat indonesia untuk masa depan indonesia yang lebih baik,” ucap Arief yang mencoblos di TPS 27 Sekumpul ini.
Ia menganggap pemilu yang pertama ia ikuti ini tidak terlalu susah karena ia pada H-1 pemilu sudah mendapatkan bayangan karena bertugas di Posko Pemantauan Pemilu Kabupaten Banjar.
“Selain itu saya sudah punya pilihan dalam pemilu ini, jadi tidak bingung walaupun banyaknya pilihan yang tersedia,” kata Arief yang menjadi Wakil IV Nanang Banjar 2018 ini.
Ia berharap siapapun yang terpilih dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih sejahtera dan membuat daerah menjadi lebih baik.
5. Andith Ananta Akbar

Salah satu pelajar yang beberapa waktu lalu baru saja mengikuti UNBK, Andith Ananta Akbar (18) menceritakan ia gugup dalam pemilu yang pertama diikutinya ini.
“Perasaan saya agak gugup, walaupun begitu saya senang bisa memberikan suara saya dalam pemilu pertama yang saya ikuti ini,” katanya
Ia pun tak kesulitan untuk menyalurkan hak suaranya karena sudah melihat sosialisasi yang dilakukan KPU dan belajar melalui sosial media.
“Gampang karena tinggal coblos. Susahnya apakah orang kita pilih apakah orang ini sesuai dengan visi misi nya saat berkampanye atau mensosialisasikan dirinya karena suara kita sangat menentukan kerja nya kedepan apabila terpilih. Tapi saya tidak bingung dan punya pilihan sendiri yang sudah dipikirkan dengan matang tanpa paksaan orang lain,” jelasnya.
6. Nuril Fadhila

Tak hanya laki-laki, pemilih perempuan milenial juga banyak menyalurkan hak pilihnya, diantaranya adalah Nuril fadhila (19) atau Dhila yang menyalurkan hak pilihnya di salah satu TPS di Jalan Pintu Air, Teluk Sanggar, Bincau Martapura.
“Saya sangat antusias mengikuti pemilu pertama saya ini untuk memilih caleg dan capres-cawapres,” kata Dhila.
Ia sendiri sudah memiliki bayangan siapa yang dipilih, bahkan pilihannya sudah dikonsultasikan pada orang tuanya.
“Saya lega sekali bisa memilih. Walaupun cukup susah saat memilih caleg, karena masih ragu-ragu. Kalau capres pilihan saya sudah menentukan pilihan,” terangnya.
Dhila dalam pemilu pertamanya ini menjatuhkan pilihannya pada pasangan Prabowo-Sandi, karena tertarik untuk melihat kinerjanya saat memimpin Indonesia jika terpilih.
“Sedangkan caleg, ada beberapa yang saya pilih sendiri dan beberapa mengikuti pilihan orang tua. Saya harap siapapun yang terpilih dapat lebih mensejahterakan rakyat rakyat kalangan bawah dan dengan tegas tidak menjual aset aset sumber daya alam yang ada di Indonesia,” harap Dhila.
7. Novita Nooryanti

Walaupun termasuk pemilih milenial, Novita Nooryanti (22) yang bekerja sebagai Guru di salah satu SD di Martapura mengungkapkan ini pemilu kedua yang diikutinya.
“Perasaan saya biasa saja karena sudah pernah nyoblos, malahan saya ingin cepat pulang,” kata Novita yang mencoblos di TPS 19 Tanjung Rema Darat.
Ia juga memilih calon pemilih sesuai dengan pilihan hati dan tidak ikut-ikutan orang lain.
“Saya memilih capres-cawapres no 2 karena Sandiaga Uno ganteng,” ujarnya sambil bercanda.
Novita berharap siapapun yang menang dapat menjalankan amanahnya dan sesuai dengan ucapan-ucapan yang telah disampaikan dalam kampanye.