TERAS7.COM – Penyumbatan drainase yang sering terjadi hingga mengakibatkan genangan air saat hujan deras di jalan Sekumpul, Pemerintah Kabupaten Banjar telah melakukan penyusunan master plan untuk rencana pembangunan drainase.
Rencana pembangunan drainase ini memiliki panjang 2,4 Kilometer, sepanjang jalan Sekumpul mulai dari persimpangan lampu merah Ahmad Yani, sampai simpang tiga Jalan Sekumpul Ujung.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Banjar, M. Hilman mengatakan sebelumnya pemerintah daerah sudah mengadakan beberapa kali pertemuan dengan Camat, RT, RW dan masyarakat setempat membicarakan rencana tersebut, hingga tahap saat ini penyusunan master plan strategi pembangunan drainase.
“Langkah pertama yang kami lakukan, kami ingin menyelesaikan masalah itu secara menyeluruh. Genangan air idealnya maksimum 2 kali dalam setahun dengan ketinggian 30 sentimeter selama 2 jam, ini juga menjadi dasar rencana kita,” ujarnya kepada Teras7.com pada Jum’at (21/06).

Secara fungsi, Drainase modern bukan untuk mengalihkan air sebanyak mungkin, tetapi bagaimana bisa menahan air sebanyaknya dan mengeluarkan air sedikit-dikitnya.
Genangan air yang terjadi di Sekumpul, tidak hanya disebabkan air hujan, tetapi juga akibat saluran air yang masih belum tertata, bahkan air juga mengalir dari wilayah Banjarbaru masuk dalam saluran air yang mengarah ke wilayah Sekumpul Martapura.
Salah satu Calon Sekertaris Daerah Kabupaten Banjar ini melanjutkan, masalah saluran air yang terjadi di Sekumpul cukup menyeluruh, yang mana tidak hanya mengatasi saluran tetapi juga tentang penataan kota, baik jalan maupun bangunan, tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

“Kalau perhitungan kita, dengan anggaran yang ada sekarang masih belum bisa memenuhi, pembangunan ini harus dilakukan bersama sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” tambahnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka Jalan sekumpul tidak hanya dilakukan pembenahan pada bagian drainase saja, tetapi juga membutuhkan embung sebagai tempat penampungan air untuk mengontrol debit keluar masuk air.
“Untuk itu, dari pencanaan ini, dibutuhkan 3 embung sebagai tempat penampungan air dan mengontrol keluar masuknya air,” ucapnya.
Rencana pembangun drainase ini juga dibutuhkan pelebaran jalan di sepanjang Sekumpul, 2 sampai 3 meter kiri dan kanan jalan, maka dari itu M. Hilman berharap rencana ini bisa dibdukung semua masyarakat dalam proses pembebasan lahan.

“Dari perencanaan ini membutuhkan anggaran sebanyak 41,379 miliar, dan ini masih belum masuk biaya untuk pembebasan lahan, di sepanjang jalan Sekumpul,” terangnya.
Sekumpul Martapura merupakan tempat yang sangat dikenal sebagai tempat wisata religi, yang mana diketahui, dengan adanya kubah Guru Sekumpul wilayah ini tidak pernah sepi setiap harinya, apa lagi saat haul satu tahun sekali yang dikunjungi jutaan orang.
Menurutnya dengan rencana penaatan yang telah disusun dalam master plan, pemerintah menginginkan bangunan dan jalan juga tertata dengan baik dan rapi, sehingga Sekumpul menarik dan ramai dikunjungi sebagai tempat wisata religi.

Rencana pembangunan ini mendapat respon dari masyarakat Sekumpul, salah satunya adalah Hj. Anis (42) yang kediamannya berada pinggir jalan Sekumpul, tepatnya di depan Gang Nusantara dekat Pasar Ridho Sekumpul.
Hj. Anis mengatakan ia setuju dengan rencana pemerintah ini, terutama untuk kebaikan masyarakat umum.
“Saya setuju saja dan tak masalah, asal ada ganti rugi saja. Di depan rumah juga sering banjir jika hujan. Walaupun tidak masuk ke rumah, cuma di teras saja tapi cukup mengganggu. Jadi saya setuju saja jika nanti dibangun,” katanya.

Walaupun rencana pembangunan drainase dan pelebaran jalan tersebut membuat hampir sepertiga bagian rumahnya terdampak, ia tak berencana untuk menjual rumahnya.
“Tak ada rencana untuk pindah, walaupun terdampak pembangunan. Karena rumah saya sempit karena ukurannya hanya 10 kali 9 meter saja. Jadi mau minta izin dari pemerintah supaya bisa membangun jadi dua tingkat,” ujar Hj. Anis.
Selain itu dengan ramainya jamaah yang berziarah ke makam Guru Sekumpul dan membawa berkah bagi keluarganya yang berdagang buah-buahan, membuat ia enggan untuk pindah.
Sementara warga Sekumpul yang lain, Siti Raudah (36) mengatakan ia setuju-setuju saja dengan rencana pemerintah ini.

“Setuju-setuju saja, walau rumah ini bukan milik saya, tetapi sewa dari ayah angkat saya. Rumah yang didepannya ada warung saya ini katanya terkena rencana pembangunan sekitar 2-3 meter,” ungkapnya.
Selain itu banjir yang sering menggenang usai hujan deras di jalan Sekumpul juga turut mengganggu perempuan yang tinggal di Jalan Sekumpul di samping Gang Soewardi ini.
“Saya tak ada masalah jika terkena dampak, apalagi bagus jika dibikinkan drainase, jadi tidak banjir lagi disini,” jelasnya.