TERAS7.COM – Pendaftaran ajang pemilihan Nanang Galuh Banjar 2025 akan segera berakhir pada 17 Mei 2025. Sejak dibuka pada 5 Mei lalu, ajang ini mencatat antusiasme tinggi dari kalangan muda Kabupaten Banjar. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjar menargetkan 100 peserta untuk tahun ini.
Kepala Seksi Promosi Pariwisata Disbudporapar Banjar, Yunita Saraswati, menyampaikan bahwa sejauh ini jumlah pendaftar didominasi oleh peserta perempuan. Namun, pihaknya berharap partisipasi dari peserta laki-laki juga meningkat.
“Galuh biasanya memang lebih banyak peminatnya dibanding Nanang, tapi kami ingin keseimbangan partisipasi dari kedua gender,” ujar Yunita, Kamis (15/5/2025).
Tahun ini, persyaratan pendaftaran dibuat lebih spesifik. Peserta wajib berusia 17–23 tahun, dengan tinggi badan minimal 168 cm untuk pria dan 158 cm untuk wanita. Peserta juga harus berdomisili di Kabupaten Banjar, yang dibuktikan melalui e-KTP atau Kartu Keluarga.

“Kami fokus pada putra-putri daerah karena mereka lebih mungkin berkontribusi dalam program jangka panjang setelah ajang ini,” jelasnya.
Usia minimal 17 tahun ditetapkan karena dianggap sebagai usia yang cukup matang untuk mengikuti rangkaian seleksi, mulai dari wawancara hingga pelatihan.
Selama masa pendaftaran, Disbudporapar juga melakukan sosialisasi ke lebih dari 22 sekolah dan perguruan tinggi melalui program Go to School and Campus.
“Program ini kami gelar agar para pelajar dan mahasiswa lebih mengenal ajang Nanang Galuh dan tertarik untuk berpartisipasi,” ungkap Yunita.
Meski proses pendaftaran dilakukan secara daring, peserta tetap diwajibkan membawa berkas fisik saat audisi untuk keperluan verifikasi data dan pengecekan tinggi badan.
“Validitas data menjadi kunci dalam seleksi. Kami ingin pastikan semua informasi yang diberikan sesuai kenyataan,” tegasnya.
Setelah penutupan pendaftaran, Disbudporapar akan memulai tahapan seleksi lanjutan yang mencakup audisi, pelatihan, dan pembekalan bagi peserta terpilih.
“Kami berharap ajang ini tak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga menjadi sarana pembinaan generasi muda yang peduli terhadap budaya dan pariwisata Banjar,” tutup Yunita.