TERAS7.COM – Transformasi energi bersih di sektor industri pertambangan kian konkret. PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bersama PT Borneo Indobara (BIB) menegaskan komitmen tersebut melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Renewable Energy Certificate (REC).
Penandatanganan berlangsung di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu (8/2). Dalam kerja sama ini, BIB menambah pembelian REC sebanyak 23.040 unit atau setara 40.000 megavolt ampere (MVA) listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).
REC merupakan sertifikat digital yang merepresentasikan atribut lingkungan dari satu megawatt hour (MWh) listrik yang dihasilkan dari sumber energi terbarukan, seperti surya, air, atau panas bumi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa konsumsi listrik pelanggan didukung kontribusi EBT, meskipun secara teknis penyalurannya tetap melalui sistem jaringan terpadu PLN.
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menyatakan kerja sama ini merupakan wujud nyata dukungan PLN terhadap transisi energi di sektor industri nasional.
“PLN berkomitmen penuh mendukung daya saing industri nasional melalui pemanfaatan energi bersih yang ramah lingkungan. Kami menghadirkan opsi layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok dari pembangkit berbasis EBT melalui layanan REC,” ujarnya.
Kerja sama tersebut dinilai bukan sekadar transaksi sertifikat, melainkan langkah strategis memperkuat posisi industri Indonesia di tengah tuntutan global terhadap dekarbonisasi dan praktik keberlanjutan.
Chief Operating Officer BIB, Raden Utoro, mengapresiasi kolaborasi dengan PLN yang dinilai krusial dalam mendukung implementasi program Green Mining Realization di lingkungan operasional perusahaan.
“Kami mengapresiasi dukungan PLN. Keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan utama, karena gangguan pasokan dapat berdampak langsung pada aktivitas operasional tambang,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan listrik bersih akan terus meningkat seiring pengembangan titik tambang BIB. Dukungan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk transmisi dan gardu induk, diproyeksikan menopang kebutuhan daya puncak yang ditargetkan mencapai 200–240 MVA pada 2028.
BIB juga menargetkan elektrifikasi 25 persen armada alat berat berbasis listrik pada 2026, meningkat menjadi 75 persen pada 2028, serta mengarah pada target nol emisi pada 2028–2029.
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyebut penjualan 23.040 unit REC ini sebagai capaian terbesar di wilayah Kalimantan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan PT Borneo Indobara kepada PLN,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi ini dapat menjadi tolok ukur transformasi energi bersih di sektor pertambangan nasional. Dengan pasokan listrik yang andal dan berkualitas, PLN siap mendukung pertumbuhan industri sekaligus membantu pencapaian target lingkungan di era transisi energi.
Sinergi antara penyedia listrik nasional dan pelaku industri ini menunjukkan bahwa langkah menuju net zero emissions ditempuh secara nyata dan terukur, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia terhadap agenda keberlanjutan global.