Juga pada Kamis, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan terbaru perihal situasi terkini di Indonesia, yang disebut mereka memerlukan “tindakan mendesak”.
“Implementasi protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan sosial sangat diperlukan di seluruh pelosok negeri, meski program vaksin sedang berlangsung. Protokol kesehatan akan tetap bekerja bahkan dalam konteks sebaran varian baru seperti yang ditunjukkan di India dan negara lain yang menghadapi peningkatan kasus,” tulis WHO.
WHO mengingatkan tingkat keterisian tempat tidur yang terus melonjak memerlukan perhatian lebih dari pemerintah.
“Ada kebutuhan untuk segera bersiap menghadapi lonjakan kasus, termasuk memastikan ketersediaan ruang isolasi, suplai oksigen, peralatan medis, alat pelindung diri, kantong jenazah, serta tambahan sumber daya manusia,” lanjut WHO.
Per Kamis, kasus terkonfirmasi positif COVID-19 melonjak 12.624 menjadi 1.950.276 dalam 24 jam terakhir. Angka kematian bertambah 277 menjadi 53.753 orang. Lonjakan kasus tertinggi tercatat terjadi di semua provinsi di Pulau Jawa, sebut laporan harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kemenkes.
Jumlah orang yang telah mendapatkan vaksinasi hingga tahap kedua mencapai 11,9 juta, dari total 21,9 juta orang yang telah disuntik vaksin tahap pertama. Pemerintah menargetkan 181,5 juta penduduk tervaksinasi pada April 2022 untuk menciptakan herd immunity atau kekebalan komunitas.

Indonesia telah menerima suplai vaksin hingga 93,7 juta dosis yang terdiri dari 84,5 juta dosis vaksin Sinovac, AstraZeneca dari Inggris sebanyak 8,2 juta dosis, dan 1 juta dosis dari Sinopharm Cina.
Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, sebelumnya mengatakan lonjakan kasus di beberapa kabupaten/kota di Indonesia bakal terjadi secara drastis pada akhir Juni dan awal Juli akibat varian Delta yang menyebar begitu cepat.
“Yang perlu diwaspadai varian Delta karena memenuhi kriteria super-strain dan sudah pasti akan meluluhlantakkan sistem kesehatan kita. Yang harus dilakukan saat ini adalah merespons dengan peningkatan kapasitas kesehatan,” kata Dicky.
Antisipasi tenaga kesehatan