TERAS7.COM – Memasuki era industri 4.0 Indonesia memiliki tantangan baru, baik di tatanan pemerintahan maupun sosial masyarakatnya, mengingat perkembangan teknologi dan informatika dunia yang semakin pesat, dimanfaatkan untuk mencipatak kota cerdas yang terkonsep dalam program smart city.
Smart city merupakan wilayah kota yang telah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari, dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menjadikan sebuah kota yang mampu memanfaatkan teknologi sebagai kegiatan sehari hari memang tidaklah mudah, beberapa kendala juga mesti dihadapi oleh pemerintah, memberikan pemahaman kepada publik bahwa kehadiran teknologi adalah untuk mempermudah kita dalam melakukan komunikasi dan memperoleh informasi, namun tidak semua masyarakat memahaminya.
Seperti yang diungkapkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Banjar mengeluhkan beberapa kendala dalam penerapan program smart city yang dipengaruhi beberapa faktor, seperti anggaran yang terbatas, koneksi jaringan yang lemah, jangkauan server dengan jarak yang cukup jauh mengakibatkan akses terganggu, serta SDM yang tidak memadai dan kurangnya pemahaman ASN tentang program smart city.
Kepala Diskominfo Kabupaten Bajar Farid Soufian mengatakan, upaya penerapan program smart city Kabupaten Banjar diketahui baru dimulai pada tahun 2018, dari 30 SKPD yang ada di pemerintah Kabupaten Banjar, 15 diantaranya sudah terkoneksi dalam satu server.
“Disetiap SKPD kita akan buatkan satu aplikasi untuk mengakses data dengan mudah, server jaringan serta mengkoneksikan jaringan yang tersambung ke data center, nanti data yang dimasukan oleh SKPD bisa terintegrasi dalam server center,” ucapnya.
Untuk menerapkan smart city di Kabupaten Banjar tidaklah mudah, luas wilayah Kabupaten Banjar dan jarak SKPD dengan data center yang cukup jauh akan mengakibatkan gangguan akses, yang mana solusi yang diambil adalah membangun jaringan melalui tower radio dan kabel penghubung anrata ADKP dengan cata center.
Sementara ini beberapa SKPD yang sudah menerapkan smart citi di Kabupaten Banjar, diantaranya RSUD Ratu Zalecha, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Selai itu, Farid melanjukan, untuk membangun jaringan koneksi mewujudkan smart city di Kabupaten Banjar sangat memerlukan perangkat lunak seperti kabel, komputer dan pasilitas lainnya dengan angaran yang cukup banyak.
“Kalau kita lihat seperti di malang, surabaya dan daerah lainnya, untuk membangun smart city menghabiskan anggaran sebesar 15 milyar, namun kita menyadari daerah kita memiliki anggrana yang terbatas, kita tetap berjalan pelan namun pasti,” terangnya.
Farid menyampaikan, Berbagai upaya juga telah dilakukan oleh Diskominfo Kabupaten Banjar untuk mewujudkan smart city, seperti mengadakan bimtek, pelatihan, sosialisasi hingga membeli perangkat pengadaan yang memakan anggraan 3 milyar sampai 4 milyar.
“Sampai hari ini anggaran yang terpakai sudah 3 milayr sampai 4 milyar bersumber dari APBD , sementara bantuan anggrana dari APBN tidak ada, kita berharap semoga target jaringan kita mampu menjangkau kecamatan dan keluranan bisa terwujud, dengan tambahan anggaran di tahun 2019 nanti,” pungkasnya.