TERAS7.COM – Balai Bahasa Kalimantan Selatan melaksanakan Diskusi Kelompok Terpumpun dengan tajuk Pemakaian Bahasa Di Media Massa pada Jumat (21/6) di Wisma Sultan Sulaiman, Martapura.
Diskusi yang diikuti Jurnalis Banjar, Humas dan Protokol Pemkab Banjar, dan Media Center Diskominfo ini dilaksanakan oleh Balai Bahasa untuk mewujudkan kebahasaan dan kesastraan yang berkarakter.
Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Imam Budi Utomo mengatakan kegiatan ini dilaksanakan agar dapat meningkatkan mutu kebahasaan dan pemakaiannya, terutama bagi insan media dan pembacanya.
“Kemahiran berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu penting. Apalagi bahasa Indonesia menjadi bahasa yang wajib dalam bernegara dan media massa. Cara supaya mahir kita harus cinta bahasa ini dengan bangga, setia dan mempelajari bahasa ini. Tapi keterampilan tersebut di tidak hanya berbicara saja, tapi juga dalam membaca,” ujarnya.

Selain itu ujarnya banyak insan media yang belum menguasai kaidah-kaidah dalam berbahasa yang baik seperti penggunaan ejaan yang benar dan kata yang dapat dipahami hanya dengan sekali baca.
“Seperti judul berita yang singkat dan padat itu tak masalah untuk kekhasan. Tapi untuk isi berita harus sesuai dengan kaidah yang berlaku. Hal ini yang kadang terabaikan karena ada perbedaan antara ragam lisan dengan tulisan. Kalai ragam lisan dapat dipahami dengan mudah karena dibantu mimik muka, intonasi dan gerak tubuh. Sedangkan dalam ragam tulis tak ada ekspresi yang bisa ditunjukkan. Jadi kita harus menulis dengan kaidah yang sesuai agar tulisan kita dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca,” jelas Imam Budi Utomo.
Ia juga meminta pada insan media yang hadir agar dapat memberikan edukasi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar pada pembacanya melalui media massa masing-masing, baik cetak, online maupun elektronik.

“Tugas utama kami adalah penyuluhan berbahasa pada masyarakat. Tapi tugas kami tak maksimal jika datang satu persatu ke setiap daerah untuk memberikan penyuluhan. Jadi kami meminta bantuan pada insan media yang hadir agar dapat memberikan edukasi pada masyarakat melalui tulisannya,” ungkapnya.
Selain membahas bahasa Indonesia, Imam Budi Utomo juga membahas mengenai konservasi bahasa daerah yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Selatan selama ini.
“Konservasi bahasa daerah ini merupakan kewenangan bersama Pemerintah Daerah. Tujuannya agar menjaga bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah lebih dari 600 bahasa yang beragam. Kalau tidak dijaga sekarang maka bahasa tersebut akan punah,” urainya.
Ia mengatakan ada 4 kategori status bahasa daerah oleh PBB, yaitu Aman yaitu bahasa yang masih digunakan dan diajarkan secara sistematis dan massif, terancam punah yaitu bahasa yang masih banyak dituturkan, tapi generasi mudanya enggan menggunakan bahasa tersebut.

Dibawahnya ada bahasa nyaris punah yaitu bahasa yang penuturnya dibawah 1000 orang dan tidak dipakai oleh generasi mudanya, terakhir adalah bahasa punah karena tak ada penuturnya sama sekali.
“Bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, Banjar dan bahasa daerah utama di beberapa daerah masih tergolong bahasa aman karena masih dipakai secara sistematis dan massif. Ada beberapa bahasa seperti di Kalimantan Selatan yang sudah tergolong bahasa yang terancam punah dan nyaris punah. Jdi kami melakukan konservasi dengan menghali kosakata bahasa tersebut dengan mendengarkan si penutur bercerita, lalu kami catat dan buatkan kamusnya. Jadi ada peninggalan jejaknya walaupun nanti bahasa tersebut akan punah,” cerita Imam Budi Utomo.
Pelaksanaan diskusi ini sendiri diapresiasi oleh Jurnalis Banjar yang hadir, salah satunya adalah Asfi (19).

Ia mengatakan mendapat banyak pelajaran baru dari diskusi yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Kalimantan Selatan ini.
“Akhirnya saya mendapatkan dapat kesempatan menambah wawasan mengenai kaidah berbahasa yang baik dan benar. Sebagai insan pers tentu saja ini akan membuat kualitas tulisan yang saya buat menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ujar Asfi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nelly (23) yang bekerja di Humas dan Protokol Pemkab Banjar.
“Menurut saya pelatihan seperti ini bagus dan bermanfaat sekali bagi pers dan humas. Karena kita sama-sama bikin berita, jadi perlu acuan yang sama agar bisa dipahami oleh pembaca atau pendengar,” kata Nelly.