Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Cerita Wayang di Langit Barikin
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Cerita Wayang di Langit Barikin

Puisi
Puisi 8 Desember 2024, 03.43
Share
IMG 20241209 WA0004
Sebagai ilustrasi. (Foto : teras7.com)
SHARE

Puisi M. Amin Mustika Muda

Corat coret di Desa Barikin 6 – 8 Desember 2024.

Menuntun Raut yang Kaku

Ia sisipkan ramahnya
di tepi tingkahku yang gugup,
menuntun raut yang kaku
menjadi cawan kecil penuh cerita.

Di sela aroma kopi,
angin membawa hasratku,
membaca tanpa titik,
berkelindan dalam jeda malam
yang bersandar di senyumnya.

Baca juga :

Luka yang Diberi Irama

Hati

Memotret Ingatan

Barangkali, kau belajar dari perjalanan, sementara aku dibesarkan sunyi.
Detak jam yang berbisik pelan,
menggaris waktu
pada cangkir yang hampir kosong.

Oh, ini bukan sekadar kopi
tapi rahasia.
Mata yang saling bicara,
dan perjalanan yang menjahit
sebuah puisi di langit pagi.

Gong Malam di Kampung Kecil

Selalu, di kampung kecil ini,
gong itu menggetarkan dinding-dinding senyap,
memantulkan gema, menyuarai gerak tangan
yang membangunkan malam dari rebahnya.

Di balik gema itu,
tawa menjelma bara,
melebur dingin yang memagut
orang-orang serupa selimut,
berlapis rapat dalam kebisuan.

Malam, di sini,
bukan sekadar waktu yang berlalu.
Ia rumah bagi jiwa-jiwa yang bertahan,
temaram api yang dijaga,
dan harapan yang disulam
dari setiap nada gong yang setia.

Kampung Perawat

Kampung kecil ini serupa perawat,
merawat napas tradisi
yang hampir saja tumbang di tikungan waktu.
Di tiap denyutnya,
ada gurat-gurat tua
menjaga akar yang nyaris lepas.

Penduduknya
kadang menjadi wayang,
mengikuti tarikan benang dalang
yang bersuara nyaring di balik layar.
Mereka bergerak riang,
seperti lupa pada beban pagi
atau gelisah yang mengendap di malam hari.

Namun, di balik keriaan itu,
kampung ini masih meraba:
menimbang batas antara menjaga
dan kehilangan,
antara menjadi perawat,
atau pasien bagi dirinya sendiri.

Dalang yang Kutinggalkan

Senyumnya seperti hujan,
jatuh perlahan,
menyapa pohon gersang di dadaku.
Ia yang merawat kenangan
adalah ia yang kutinggalkan,
meski sempat menitipkan sebuah surat
di jantung yang kini bergetar.

“Datang lagi nanti,” katanya,
“aku akan menjadi dalang
untukmu seorang, selamanya.”
Dan matanya
matanya menyiramkan makna,
membasahi malam yang dulu kubawa pergi.

Baru kini kutahu,
ia bukan sekadar nama yang kubiarkan hilang,
tapi keramahtamahan itu sendiri.
Ia adalah rumah,
tempat hati pernah singgah,
tempat jiwa ingin kembali.

Puncak Wayang di Malam Suntuk

Malam telah mencapai kesuntukannya,
di panggung kecil yang basah oleh waktu.
Gamelan mulai menabuh genderang perang,
melantun di sela suara dalang
yang menyala, memanas,
serupa api menari di dalam gelap.

Gemerisik kulit wayang
beradu keras,
seperti kisah yang bertarung
di tangan sang pencerita.
Hujan,
yang tadi menjatuhkan kakinya di kampung ini,
kini telah bagai angin lalu,
menghilang dalam riuh tabuhan.

Penonton tak beranjak,
mata mereka terpaku,
telinga mereka tertawan.
Dan keriuhan itu terus melaju,
menanjak ke puncak malam,
seakan esok tak lagi penting,
selain apa yang dinyalakan
di panggung yang setia.

Barikin,
tahukah kau,
jika di rahimmu telah kutanam rindu?
Rindu yang tumbuh menjadi sulur-sulur bayang,
melilit cerita dalam malam yang hangus,
hingga gamelan tak lagi bertanya
siapa yang pulang,
dan siapa yang tinggal abadi di sana.

M. AMIN MUSTIKA MUDA, Gemar membaca dan menulis fiksi serta puisi. Bermukim di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa karyanya pernah terbit di media massa dan buku antologi.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

20260721 095341
Bibit Pemain Sepak Bola Siap Berlaga Diajang GSI Asahan 2026
20 Juli 2026, 17.54
IMG 20260720 222408
Dugaan Korupsi Seret Dinkes Kabupaten Banjar, Kejari Geledah Kantor dan Sita 48 Dokumen
20 Juli 2026, 22.34
b64aef3c 0611 4575 a009 f17384d9d012
Pemalsuan Dokumen Tanah, Kuasa Hukum PT AGM: “Terdakwa Sudah Beberapa Kali Melakukan Hal Serupa”
21 Juli 2026, 20.20
83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48

You Might Also Like

Luka yang Diberi Irama

Hati

Memotret Ingatan

Suatu Ketika di Poliklinik THT

Risol Kenangan

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?