Puisi M. Amin Mustika Muda
Ia tersenyum, seperti daun yang berseru pada angin sebelum musim terakhir datang. Di matanya, ada jejak malam yang tak habis-habis digerus doa, dan di ujung bibirnya, tawa tumbuh dari reruntuhan luka yang lama disembunyikan. Tangannya membentuk hati, tetapi siapa yang tahu isi ruang di balik dadanya? Barangkali sepi, barangkali kenangan yang membatu. Dalam jilbab hitam itu, ia sembunyikan rindu yang tak bisa dikirim, nama yang tak bisa disebut, dan cerita yang terlalu getir untuk dibagikan pada pagi. Ia tidak sedang berpura-pura bahagia; ia sedang menolak runtuh di hadapan dunia yang tak pernah benar-benar peduli. Dan ketika semua orang tertawa, ia memilih diam, sebab diam adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjelaskan mengapa cinta itu, meski kecil, tetap terasa seperti kehilangan yang terus-menerus.
Juni 2025
M. AMIN MUSTIKA MUDA, Gemar membaca dan menulis fiksi serta puisi. Bermukim di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa karyanya pernah dimuat di media massa dan buku antologi. Menerbitkan buku puisi: Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian (Tahura Media 2016).