Puisi M. Amin Mustika Muda
Ia muncul dari kelam yang tak punya ingatan, tubuhnya berlumur taburan warna seperti sisa-sisa peperangan yang gagal dimenangkan. Geraknya memecah sunyi dengan amarah yang dibungkus gemulai. Lengan itu, yang seharusnya memeluk bayi atau menanak nasib, kini menggores udara seperti menuliskan mantra yang tak bisa dibaca, hanya bisa dirasa getirnya. Di wajahnya, topeng hijau menjerit tanpa suara. Matanya tajam menatap dan menusuk masa lalu yang tak kunjung reda. Ia luka yang diberi irama.
Di tubuhnya, segala yang mewah berubah jadi senjata. Manik-manik di dada adalah serpihan sumpah para tuan berwajah lunak. Mahkota di kepala adalah kutuk yang diwariskan dari rahim ke rahim, dari ibu ke anak perempuan yang dituntut manis dalam derita. Ia menari untuk membalas dendam pada sunyi yang terlalu lama menindih. Ia menari untuk menjaga warisan yang nyaris punah, marah yang lembut, tangis yang gagah. Setiap hentakan adalah ratap yang dirajam.
Dan aku, yang menonton dari gelap, hanyalah pengintip luka yang tak pernah benar-benar ingin sembuh. Barangkali aku ingin menikmati tubuh yang patah sambil berharap ia tidak roboh. Tapi ia tahu, panggung adalah medan perang yang tak bisa dimenangkan oleh siapa pun, kecuali yang berani menjadikan tubuhnya sendiri sebagai medan tempur.
Maka ia terus menari. Di antara debu dan debar. Di antara leluhur yang menjerit di bahunya. Di antara doa-doa yang tak pernah sempat dikabulkan. Sebab bila ia berhenti, dunia akan benar-benar sunyi. Dan tak ada lagi yang ingat, bahwa pernah ada perempuan yang melawan dengan gemulai yang mengandung racun.
M. AMIN MUSTIKA MUDA, Gemar membaca dan menulis fiksi serta puisi. Bermukim di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa karyanya pernah dimuat di media massa dan buku antologi. Menerbitkan buku puisi: Layang-layang Raksasa Sangkut di Atas Pohon Durian (Tahura Media 2016).