Dengan berselancar di website kami, Anda setuju dengan Kebijakan Privasi kami.
Accept
Teras7.comTeras7.com
  • INDEKS BERITA
  • NEWS
    • Nasional
    • Berita Umum
    • Ekonomi
    • Layanan Publik
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Banjir KalSel
  • LIFE
    • Education
    • Lifestyle
    • Teknologi
    • Kilas Balik
  • HEALTH
  • TRAVEL
  • FOOD
Search
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
Reading: Rasionalisme di Era Post-Truth: Saat Akal Sehat Jadi Barang Langka
Share
Sign In
Notification Show More
Aa
Teras7.comTeras7.com
Aa
Search
  • Indeks Berita
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Pemerintahan
  • Lifestyle
  • Budaya
  • Opini
  • Education
  • Ekonomi
  • Video
  • Berita Umum
  • Environment
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Kilas Balik
  • Kuliner
  • Layanan Publik
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Religi
  • Sosial
  • Teknologi
  • Travel
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.

Rasionalisme di Era Post-Truth: Saat Akal Sehat Jadi Barang Langka

Ahmad Fauzi
Ahmad Fauzi 21 Oktober 2025, 11.01
Share
Frans Hals Portret van Rene Descartes
René Descartes — pemikir yang menegaskan eksistensi manusia melalui kekuatan berpikir.
SHARE

Oleh Ahmad Fauzi

TERAS7.COM – Di tengah derasnya arus informasi digital, manusia kini hidup di era yang paradoksal: begitu mudah menemukan kabar, namun kian sulit menemukan kebenaran. Hanya dengan satu sentuhan jari, ribuan opini membanjiri layar—sebagian benar, sebagian lagi berselimut manipulasi. Inilah yang disebut banyak pemikir sebagai era post-truth—ketika emosi lebih dipercaya daripada fakta, dan opini mengalahkan realitas.

Fenomena ini menggugah pertanyaan mendasar: dengan apa manusia seharusnya menimbang kebenaran? Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, rasionalisme hadir kembali sebagai mercusuar bagi pencarian ilmu dan akal sehat.

Rasionalisme: Jalan Akal Menuju Kebenaran

Rasionalisme meyakini bahwa akal adalah sumber utama pengetahuan. Kebenaran, dalam pandangan ini, tidak semata-mata lahir dari pengalaman indrawi, tetapi dari penalaran yang jernih dan logis.

Baca juga :

Sukses Jalankan Tugas HUT ke-81 RI, Paskibraka Tanah Bumbu Dapat Apresiasi dari Bupati

Maknai HUT ke-81 RI, Andi Irmayani: Kemerdekaan Adalah Dorongan untuk Terus Berkarya

HUT ke-81 RI Jadi Momentum PKK Tanah Bumbu Perkuat Komitmen Dukung Pembangunan

René Descartes, sang “Bapak Filsafat Modern”, merumuskan kalimat sederhana namun mengguncang dunia: Cogito ergo sum — Aku berpikir, maka aku ada. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa berpikir adalah dasar eksistensi manusia. Melalui keraguan dan penalaran, manusia menemukan fondasi kebenaran yang tak tergoyahkan.

Descartes tidak sendiri. Baruch Spinoza dan Gottfried Wilhelm Leibniz sama-sama meyakini bahwa dunia ini bekerja menurut hukum rasional. Mereka meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern: berpikir sistematis, menimbang dengan logika, dan mencari kepastian melalui penalaran.

Akal dan Krisis Dunia Modern

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan melimpahnya data, manusia modern justru mengalami krisis kebijaksanaan. Informasi berlimpah, tetapi pemahaman menipis. Dunia maya menciptakan realitas semu, di mana citra sering kali menggantikan makna.

Dalam istilah Yasraf Amir Piliang, manusia hidup dalam “bayang-bayang Tuhan” — dunia di mana simbol lebih berkuasa daripada substansi.
Kita menghadapi paradoks baru:

  • Post-truth menjadikan emosi lebih kuat daripada fakta.
  • Krisis moral menipiskan nilai kemanusiaan.
  • Globalisasi budaya mengikis jati diri lokal.
  • Dominasi teknologi menggeser manusia dari subjek menjadi objek.

Rasionalisme, dalam konteks ini, bukan sekadar teori filsafat. Ia adalah panggilan zaman—untuk kembali berpikir jernih, menimbang dengan nalar, dan tidak terperangkap dalam pusaran opini yang menyesatkan.

Menyeimbangkan Akal dan Nilai

Sering disalahpahami bahwa rasionalisme menolak nilai-nilai moral dan spiritual. Padahal, justru sebaliknya: ia mengajak manusia memahami nilai secara sadar dan logis.
Filsuf Indonesia, Jujun S. Suriasumantri, menulis bahwa filsafat ilmu adalah upaya reflektif untuk memahami hakikat pengetahuan. Dalam kerangka ini, akal menjadi penjaga agar ilmu tidak kehilangan arah moralnya.

Rasionalisme mengajarkan keseimbangan: berpikir logis tanpa kehilangan nurani, beriman tanpa menutup akal.

Relevansi bagi Generasi Digital

Generasi muda hari ini hidup di dunia tanpa batas—antara yang nyata dan virtual kian kabur. Namun justru di sanalah rasionalisme menemukan relevansinya.
Ia mengajarkan berpikir kritis, skeptis secara sehat, dan berani mempertanyakan sebelum mempercayai.

Dengan berpijak pada nalar, generasi digital dapat menjadi pencipta, bukan sekadar pengguna teknologi. Akal bukan hanya alat logika, melainkan kompas moral dan epistemologis di tengah kabut informasi.

Menemukan Jalan Tengah

Bagi umat beragama, berpikir rasional bukan berarti menjauh dari Tuhan. Justru Al-Qur’an sendiri berulang kali menyeru: afalā tatafakkarūn, afalā ta‘aqilūn — tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu menggunakan akal?
Rasionalisme, jika ditempatkan secara proporsional, dapat menjadi jembatan antara iman dan ilmu, antara akal dan hati.

Penutup

Ketika dunia makin bising oleh opini dan kepalsuan, rasionalisme menawarkan ketenangan: berpikir dengan nalar, menimbang dengan akal sehat, dan bertindak dengan kesadaran moral.

Modernitas memang tak terelakkan, tetapi manusia masih punya pilihan: berpikir atau sekadar mengikuti arus.
Dan sebagaimana diingatkan Descartes, selama manusia masih berpikir, ia masih ada — cogito ergo sum.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Print
What do you think?
Love1
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Surprise0
Leave a review Leave a review

Leave a review Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Populer Bulan Ini

20260721 095341
Bibit Pemain Sepak Bola Siap Berlaga Diajang GSI Asahan 2026
20 Juli 2026, 17.54
IMG 20260720 222408
Dugaan Korupsi Seret Dinkes Kabupaten Banjar, Kejari Geledah Kantor dan Sita 48 Dokumen
20 Juli 2026, 22.34
b64aef3c 0611 4575 a009 f17384d9d012
Pemalsuan Dokumen Tanah, Kuasa Hukum PT AGM: “Terdakwa Sudah Beberapa Kali Melakukan Hal Serupa”
21 Juli 2026, 20.20
83f51e18 4109 435a b616 14b65b7d5d3c
Rugikan PT AGM, Terdakwa Akui Surat Tanah Dicetak Mundur Tahun 2017 dalam Sidang di PN Kandangan
28 Juli 2026, 13.22
20260726 193045
Bupati Taufik Sampaikan 3 Pesan kepada 62 Pendeta HKBP yang Baru Ditahbiskan di Asahan
26 Juli 2026, 17.48

You Might Also Like

Sukses Jalankan Tugas HUT ke-81 RI, Paskibraka Tanah Bumbu Dapat Apresiasi dari Bupati

Maknai HUT ke-81 RI, Andi Irmayani: Kemerdekaan Adalah Dorongan untuk Terus Berkarya

HUT ke-81 RI Jadi Momentum PKK Tanah Bumbu Perkuat Komitmen Dukung Pembangunan

Kado Harjad ke-76 Kabupaten Banjar, Warga Dapat Layanan Operasi Katarak hingga Bibir Sumbing Gratis

Masuk Kios Warga di Martapura, Seekor Biawak Langsung Diamakan Petugas Damkar

Teras7.comTeras7.com
Follow US
© 2022 PT. Teras Tujuh Indonesia. Hak cipta dilindungi Undang-undang.
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
Selamat Datang!

Masuk ke akun

Register Lost your password?