TERAS7.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar memastikan wilayahnya masih bebas dari kasus Hantavirus. Penegasan tersebut disampaikan guna menjawab keresahan masyarakat setelah muncul informasi mengenai kewaspadaan terhadap virus yang berkaitan dengan hewan pengerat tersebut, Sabtu (16/05/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Hj. Mariana, SKM mengatakan, surat edaran kewaspadaan memang sudah diterbitkan sejak akhir tahun 2025. Langkah itu dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan daerah mengikuti arahan dari Kementerian Kesehatan.
Namun demikian, hingga kini belum ada laporan maupun temuan kasus Hantavirus di Kabupaten Banjar.
“Untuk wilayah Kabupaten Banjar sendiri, alhamdulillah belum ada kasus yang ditemukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit yang penularannya berasal dari hewan pengerat, terutama tikus, sehingga berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar antarmanusia.
“Penularan virus bisa terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering dan bercampur di udara saat area kotor dibersihkan,” tegasnya.
Mariana menyebut gejala penyakit tersebut cenderung menyerupai sejumlah penyakit umum lainnya seperti tifus, malaria, hingga demam biasa. Karena itu, petugas kesehatan diminta lebih teliti menggali riwayat aktivitas maupun kemungkinan kontak pasien dengan tikus.
“Potensi Hantavirus menjadi wabah besar sangat kecil lantaran pola penularannya terbatas dari hewan ke manusia,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Banjar telah meminta seluruh puskesmas untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat.
Ia juga menilai penerapan sanitasi yang baik di lingkungan rumah maupun kawasan pertanian menjadi salah satu cara efektif mencegah risiko penyakit tersebut.
“Yang penting masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan tidak perlu panik berlebihan,” harapnya.
Selain itu, warga diimbau agar terus mengikuti informasi resmi dari instansi kesehatan guna menghindari kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya.