TERAS7.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Banjarbaru membuat pelaksanaan reses Anggota DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, SE di wilayah Kecamatan Landasan Ulin kali ini dikemas berbeda.
Hal itu terlihat dalam reses yang digelar di Balai Pertemuan Tani, Jalan Kasturi 2 RT 040 RW 006, Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Rabu (26/08/2026) sore.
Dalam reses tersebut, Emi tak hanya menyerap aspirasi masyarakat, tetapi juga menghadirkan pelayanan kesehatan gratis bagi warga.
Emi mengatakan, kondisi karhutla menjadi perhatian bersama karena paparan kabut asap di kawasan Banjarbaru dan sekitarnya mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Paparan kabut asap akibat karhutla di kawasan Banjarbaru dan sekitarnya ini memang memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” ujar Emi.
Menurutnya, gangguan kesehatan akibat paparan asap dapat berupa iritasi mata, pusing, hingga gangguan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut terutama perlu diwaspadai pada kelompok rentan seperti balita dan lansia, terlebih mereka yang masih sering beraktivitas di luar ruangan.
“Kondisi karhutla ini tentunya menjadi perhatian kita semua sehingga kemudian kita harus memaksimalkan semua sumber daya kita untuk bersama-sama menghadapi situasi ini,” katanya.
Karena itu, Emi menilai kondisi tersebut perlu direspons melalui berbagai upaya, termasuk memanfaatkan kegiatan reses untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
Menurutnya, anggota dewan tidak hanya dituntut menyerap aspirasi, tetapi juga hadir dan memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Oleh karenanya memang melalui kegiatan reses ini, kita ingin memastikan bahwa anggota dewan itu tidak hanya menyerap aspirasi saja, tapi kemudian hadir dan memberikan solusi,” ujarnya.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan dengan menghadirkan pelayanan kesehatan gratis melalui kolaborasi bersama puskesmas setempat.
Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan pemeriksaan gula darah, tekanan darah hingga saluran pernapasan. Warga yang terdeteksi mengalami gangguan kesehatan juga mendapatkan obat.
Selain itu, warga menerima masker serta vitamin yang diperuntukkan bagi anak-anak dan lansia.
“Ini merupakan satu sinergi kita untuk bersama-sama dengan tim kesehatan untuk menanggulangi lewat mendeteksi dulu kondisi kesehatan masyarakat, kemudian membantu pengobatan,” kata Emi.
Emi mengatakan, dampak karhutla saat ini tidak hanya dirasakan relawan atau pihak yang terlibat langsung dalam penanganan kebakaran, tetapi juga masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat kebakaran lahan cukup tinggi.
“Tidak hanya relawan saja, tapi ini juga kondisinya sudah terpapar ke masyarakat yang memang di daerah-daerah yang tingkat kebakaran lahannya itu cukup tinggi, yaitu di daerah Kecamatan Landasan Ulin tempat kita memang mengadakan reses selama enam hari ini,” ujarnya.
Persoalan karhutla yang mulai berdampak terhadap masyarakat inilah yang menjadi alasan Emi menghadirkan layanan kesehatan dalam pelaksanaan reses kali ini.
“Ini menjadi fokus kita dan ini kegiatan yang berbeda dari reses-reses sebelumnya, karena memang ini menjadi kebutuhan mendesak di lapangan dalam situasi kondisi karhutla saat ini,” katanya.
Sekitar 30 Persen Peserta Alami Gangguan Pernapasan
Kepala Puskesmas Guntung Payung, dr Indri, mengatakan sekitar 30 persen peserta reses yang mengikuti pemeriksaan mengalami gangguan pernapasan.
“Gejalanya batuk pilek, yang parah ketika pagi,” kata Indri.
Ia menambahkan, berdasarkan data kesehatan di Kelurahan Guntung Payung dan Kelurahan Syamsudin Noor, tercatat 455 kasus ISPA selama Agustus 2026. Frekuensi kasus tersebut juga disebut mengalami peningkatan.
Sementara berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, tercatat 977 kasus ISPA se-Kota Banjarbaru pada minggu ke-33 tahun 2026.
Indri mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan penting. Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih serta mengonsumsi sayur dan makanan yang mengandung vitamin C.
Warga Sampaikan Aspirasi Penanganan Karhutla
Di sisi lain, reses tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi terkait kondisi karhutla di lingkungan mereka.
Ketua RT setempat, Hendri Wibowo, mengatakan wilayahnya termasuk kawasan yang cukup terdampak karhutla. Masyarakat setempat bahkan baru sekitar satu bulan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA).
“Wilayah kita ini kan masuk ring 1, paling yang terdampak oleh karhutla. Nah, baru sebulan ini kita membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA), kebetulan semua anggotanya banyak orang kita, karena kita yang memang sering terdampak di sini,” ujarnya.
Menurut Hendri, MPA membutuhkan dukungan sarana operasional, khususnya armada tangki air agar penanganan karhutla di wilayah tersebut dapat dilakukan lebih maksimal.
“Karena kita di sini beda dengan Banjarmasin, Banjarmasin banyak sungai, tinggal bawa pompa portable langsung bisa. Sedangkan kita perlu semacam armada tangki,” katanya.
Selain kebutuhan penanganan karhutla, Hendri juga menyampaikan aspirasi terkait pengerasan jalan di kompleks tempat tinggal warga. Ia mengatakan kondisi jalan cukup rusak ketika musim hujan karena belum pernah mendapatkan pengerasan.
Di samping itu, warga setempat juga berharap adanya bantuan tenda untuk mendukung kebutuhan masyarakat di lingkungan tersebut.